Setelah hampir tiga tahun program tol laut dilaksanakan, pemerintah mengklaim berhasil menurunkan harga barang. Padahal menurut beberapa pelaku usaha, ada sejumlah rute tol laut yang kurang tepat sasaran, sehingga menjadi boros anggaran.
Tetapi, kata Pengamat Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Raja Oloan Saut Gurning, implementasi tol lau telah berhasil membuat Indonesia makin kompetitif di era millenial. Selain itu juga berhasil menumbuhkan perekonomian negara.
Bahkan, data mencatat hingga bulan November 2017, kapal-kapal tol laut milik PELNI sudah mengangkut sebanyak 3,16 juta orang dan Kapal Perintis sebanyak 475.543 orang. Sedangkan Muatan dalam negeri hingga Oktober 2017 sebanyak 18.3 miliar ton dan luar negeri 593 Juta ton.
Padahal, pemerintah terus berencana menambah rute ke beberapa wilayah, termasuk menambah kapal. Target dari program Tol Laut diantaranya penyediaan 306 lokasi pelabuhan laut di 306 lokasi hingga 2019 dan 103 unit kapal perintis laut.
Saud Gurning menilai, kehadiran Tol Laut telah berhasil menurunkan harga bahan pokok di beberapa daerah wilayah timur Indonesia. “Dengan tol laut frekuensi angkutan kapal baik kapal barang maupun kapal penumpang dari dan sejumlah pelabuhan di tanah air khususnya di wilayah Indonesia Timur, semakin tinggi,” ujarnya.
Hal ini selaras dengan salah satu misi dan visi Tol Laut yakni bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di Nusantara. Dengan adanya hubungan antara pelabuhan-pelabuhan laut ini, maka dapat diciptakan kelancaran distribusi barang hingga ke pelosok.
Dalam program Tol Laut ini, ucap Gurning, angkutan laut baik kapal barang maupun kapal penumpang memainkan peran penting dalam memastikan berjalannya program logistik nasional jalur laut tersebut. Salah satu indikator yang ingin dicapai Pemerintah adalah ketersediaan komoditas pangan dan berbagai kebutuhan pokok masyarakat di kawasan Timur Indonesia dengan harga yang terjangkau.
Dengan tol laut diharapkan wilayah-wilayah Indonesia, dapat terhubung sehingga mampu menekan harga komoditas. Saat ini di Indonesia bagian Timur sudah dirasakan oleh masyarakat adanya penurunan harga antara 20% – 25%.
Saud Gurning menyarankan supaya program tol laut semakin sukses, perlu dukungan infrastruktur yang memadai maupun moda transportasi darat. Misalnya tersedianya gudang penyimpanan barang, truk pengangkut, supermarket, dan SDM bongkar muat barang, termasuk bunker suplai BBM kapal.
“Ketersediaan fasilitas seperti terminal, pasar, gudang penyimpan dan lainnya merupakan kebutuhan yang sangat mendesak,” ungkap Gurning.
Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mengevaluasi pelaksanaan tol laut di lapangan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan optimalisasi 13 trayek memanfaatkan program Rumah Kita yang tersebar di sejumlah titik. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Kata Menhub Budi Karya Sumadi, Rumah Kita merupakan pusat logistik yang dikelola oleh sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) diantaranya PT Pelindo I, II, III dan Pelindo IV serta PT Pelni dan PT ASDP.
Salah satu fungsi Rumah Kita yakni mampu mendistribusikan komoditas secara lebih efektif sehingga disparitas harga antara di pulau Jawa dengan pulau-pulau lain di Indonesia tak terlalu jauh. (tbn/**)





























