Terminal Teluk Lamong (TTL) di Surabaya terus melakukan pengembangan fasilitasnya. Itu karena kegiatan di terminal ini dari tahun ke tahun terus terjadi peningkatan.
Direktur Operasi TTL Rumaji membenarkan adanya pengembangan berbagai fasilitas di Terminal Teluk Lamong ini. “Kami sedang melakukan pengembangan penambahan container yard (CY), penambahan panjang dermaga, juga sistem pelayanan,” katanya kepada Ocean Week, di kantornya, Jumat (9/8).
Menurut dia, untuk CY sedang dilakukan pengerasan sehingga nantinya jadi 15 blok dari 10 blok yang sudah ada. Sedangkan dermaga akan diperpanjang 150 meter, sehingga jika ditambah dengan dermaga yang sudah ada 500 meter menjadi 650 meter. “Tentunya dengan bertambahnya dermaga alat pendukung bongkar muat pun perlu ditambah. Kami berencana menambah satu crane, sehingga total menjadi 11 crane,” ujarnya.
Kata Rumaji, untuk perpanjangan dermaga sedang dalam proses design, dan setelah selesai segera dilakukan lelang, karena diharapkan tahun 2021 sudah selesai dan bisa beroperasi. “Untuk pelayanan juga dilakukan pengembangan, itu selain untuk memudahkan pengguna jasa. Namun untuk di curah kering belum ada pengembangan karenacukup kapasitasnya,” ungkapnya lagi.
Rumaji juga menyatakan bahwa sistem operasional di terminal ini sudah online semua, meskipun di lapangan masih semi otomatis.
Data yang diperoleh Ocean Week menyebutkan, arus peti kemas sepanjang 2018 mencapai 637.733 TEUs atau tumbuh 29,3% dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 493.071 TEUs. Sementara arus curah kering mencapai 2,5 juta ton, melonjak 108,3% dibandingkan dengan realisasi 2017 sebanyak 1,2 juta ton. “Untuk arus muatan tahun 2019 hingga Juli yang internasional tercapai 188,636 TEUs, sedangkan domestik ada 200,471 TEUs. Sedangkan dry bulk total tercapai 1,783.267 ton,” kata Rumaji.
Rincian untuk kegiatan dry bulk yakni corn tercatat 388.230 ton, wheat 264.712 ton, soybean meal 1.020604 ton, dan soybean ada 109.720 ton.
Untuk diketahui, pada saat Ocean Week mengunjungi Terminal Teluk Lamong hari Jumat (9/8), terminal ini sangat steril. Hampir tak ada lalu lalang orang di dalam terminal. Hanya truk petikemas yang tampak keluar masuk. Para petugas juga terlihat sigap berjaga di tempat masing-masing.
Meskipun baru beroperasi sekitar 3,5 tahun, Terminal Teluk Lamong telah mampu menghadirkan perubahan. Layanan yang efisien, produktivitas tinggi pada bongkar muat, cukup membuat para pelaku usaha di sektor kemaritiman ini melirik Teluk Lamong.
Layanan prima yang disuguhkan Terminal Teluk Lamong juga mendapat apresiasi dari INSA Surabaya. “Layanan di Teluk Lamong sudah cukup bagus, cepat, efisien, aman, sehingga pengguna jasa dibuat nyaman,” kata Stevens Lesawengan kepada Ocean Week.
Dia berharap performa yang sudah dilakukan oleh terminal ini supaya dipertahankan, bahkan kalau bisa ditingkatkan. (***)






























