Pengamat kemaritiman nasional Capt. Asmari Heri menyatakan rencana pembangunan terminal petikemas di Gresik oleh Dubai Port bekerjasama dengan Maspion, tidak akan mengurangi dan mengganggu pasar terminal teluk Lamong.
“Saya yakin terminal Teluk Lamong (TT) tak akan terganggu, sebab terminal ini sudah memiliki pasar tetap, baik pelayaran internasional maupun domestik,” ujarnya kepada Ocean Week, disela kegiatan INSA Yacht Festival, di Bali, Jumat malam.
Apalagi, menurut Asmari Heri, kapal-kapal berukuran raksasa tidak bisa masuk ke Maspion, karena kedalaman kolam dan alur masuk pelabuhan tak lebih dari -10 meter.
Sementara itu, ungkapnya, kapal raksasa bisa dilayani di TTL. “Selama ini pengguna jasa atau pelanggan di TTL sudah cukup nyaman dengan layanan yang diberikan oleh TTL,” jelasnya lagi.
Di tempat terpisah, Ketua DPC INSA Gresik, Kasir membenarkan kalau ada rencana pembangunan terminal petikemas di pelabuhan Maspion oleh Dubai Port kerjasama dengan Maspion.
“Bisa saja dengan adanya terminal petikemas di Maspion, bisa menggerus pasar yang selama ini menggunakan TTL dan TPS Surabaya. Apalagi Dubai kan mempunyai jaringan yang luar biasa,” ungkapnya.
Kasir yakin Dubai Port yang dulu pernah bergandengan dengan TPS Surabaya, tidak akan tinggal diam, dalam menjaring pasar ke terminal petikemas yang akan dibangunnya.
“Paling tidak, jika di Maspion ada juga terminal petikemas yang besar, pengguna jasa ada banyak pilihan,” katanya.
Direktur Utama TTL David Pandapotan Sirait mengungkapkan bahwa kinerja terminalnya pada semester I tahun 2024, membaik.
“Trafik kapal dari 658 kapal di semester I-2023 menjadi 722 kapal di 2024 atau naik 9,7 persen.
Arus peti kemas, juga mengalami peningkatan, tahun 2023 tercatat 393.591 TEUs menjadi 417.329 di 2024 atau naik 6 persen.
“Hal ini disebabkan oleh peningkatan produksi pada beberapa pelayaran seperti Meratus, Mentari Mas Multimoda, SPIL, dan Sukses Sindo damai,” katanya kepada Ocean Week, di Bali, Jumat malam.
Arus peti kemas di Teminal Nilam yang dioperasikan oleh TTL, kata David, juga mengalami kenaikan dari 184.860 Teus pada semester I-2023 menjadi 204.677 Teus pada 2024 atau naik sebesar 10,7 persen.
Sejalan dengan peningkatan arus peti kemas, arus barang curah kering naik sebesar 27,4 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 1.600.334 ton pada semester I-2023 menjadi 2.038.730 ton pada periode yang sama di 2024.
Menurut David, peningkatan produksi peti kemas pada setiap rute layanan menjadi faktor meningkatnya arus peti kemas pada semester I-2024.
“Pembangunan terminal tersebut ditandai dengan Penandatanganan Perjanjian Konsesi Pelabuhan dan Peluncuran Proyek Terminal Peti Kemas Jawa Timur DP World – Maspion,” ujarnya.
Dari kerja sama tersebut, Budi Karya berharap terminal peti kemas di Jawa Timur akan menjadi terminal kelas dunia yang berfungsi sebagai jalur perdagangan penting untuk menjembatani perusahaan Indonesia dengan pasar regional dan global.
Sedangkan Group Chairman and CEO DP World Sultan Ahmed Bin Sulayem berharap kemitraan tersebut akan membuka konektivitas perdagangan yang lebih besar dan memperluas jaringan pelabuhan dan logistik global yang telah dimiliki DP World.
Dia mengatakan kemitraan pihaknya dengan Maspion Group untuk membangun infrastruktur baru di Gresik akan memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pintu gerbang perdagangan dan logistik utama.
Chairman dan CEO Maspion Group Alim Markus, mengatakan kemitraan tersebut sebagai wujud komitmen pihaknya untuk berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, yang memanfaatkan sejumlah peluang investasi.
“Ini merupakan bukti kuat bagaimana kedua perusahaan dengan didukung oleh pemerintah, bersama-sama mengembangkan infrastruktur di Jawa Timur. Hal sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kami optimis dengan prospek dan dampak ekonomi jangka panjangnya,” katanya. (***)






























