Kapal penumpang tol laut Sabuk Nusantara 110 tujuan Sinabang, Pulau Simeulue, Aceh, yang sempat tertahan keberangkatannya di pelabuhan sejak Selasa hingga Rabu petang, akibat keterlambatan pengisian BBM, akhirnya berhasil diberangkatkan pada Rabu malam, jam 20.00.
Para penumpang yang sempat cemas akhirnya lega karena kapal bisa berangkat.
Kapal perintis yang doperatori PT Pelangi Tunggal Ika itu sempat tertahan berangkat di Pelabuhan Calang, Kabupaten Aceh Jaya karena kapal itu dikabarkan tidak memiliki bahan bakar minyak (BBM).
Arifin, salah satu operator PT Pelangi Tunggal Ika (PTI) kepada Ocean Week, mengakui bahwa keterlambatan itu akibat mekanisme pengisian BBM Pertamina yang cukup berbelit.
“Apalagi kalau kapal tiba di pelabuhan saat hari libur (Sabtu, Minggu atau tanggal merah), pasti repot. Karena akan terkendala di Pertamina. Kebetulan Sabuk Nusantara 110 tiba hari Minggu, makanya Senin pagi pengajuan untuk BBM dan baru keluar quotation perintah bayar Senin sore, tapi layanan bank sudah tutup. Dan hari libur tidak bisa ajukan BBM subsidi,” kata Arifin, saat dikonfirmasi Kamis pagi.
Dia melanjutkan ceritanya bahwa setelah proses tadi, dan setelah dibayar Selasa pagi, namun DO baru keluar Rabu sore.
Padahal, pengisian ke tanki truk transporter di Meulaboh dan perjalanan ke Sinabang membutuhkan waktu sekitar 3 jam. “Kami juga sudah pernah meeting di perhubungan laut dengan pihak Pertamina (BPH Migas) untuk masalah teknis pengisian BBM subsidi ini, sudah ada titik terang, tapi dalam praktiknya belum juga jalan. Makanya kami operator sering dirugikan,” keluhnya.
Lagi pula, menurut Arifin, pengisian BBM subsidi tersebut dilakukan di setiap pelabuhan singgah, bukan dari pelabuhan keberangkatan dan pelabuhan tujuan. Alasan Pertamina, ujar Arifin, bahwa aturannya memang begitu. Tak bisa dilakukan di setiap pelabuhan singgah. “Quota BBM nya sudah diatur demikian. Tapi itu merugikan operator, karena kalau tak tercapai target waktu, kami kena denda,” katanya lagi.
Menanggapi keluhan operator terhadap mekanisme penyiapan BBM subsidi terhadap kapal tol laut, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Hubla Capt. Wisnu Handoko menyatakan sudah menindaklanjuti keluhan operator ke pihak Pertamina.
“Sudah kami teruskan kronologis ini ke rekan di Pertamina untuk menjadi perhatian dalam layanan kapal-kapal perintis agar dicarikan solusi, supaya dapat diperjelas proses pengisian BBM subsidi, khususnya ketika kapal tiba pada hari libur,” kata Capt. Wisnu kepada Ocean Week, di Jakarta, Kamis pagi.
Seperti diberitakan bahwa ratusan penumpang Kapal Motor Sabuk Nusantara 110 tujuan Sinabang, Pulau Simeulue, Aceh, sejak Selasa hingga Rabu petang gagal berangkat dan tertahan di Pelabuhan Calang, Kabupaten Aceh Jaya karena kapal ‘tol laut’ tersebut tidak memiliki bahan bakar minyak (BBM).
Akibatnya, para penumpang yang sebelumnya sudah membeli tiket terpaksa bertahan di dalam kapal karena kapal tersebut tidak memiliki bahan bakar minyak.
Salah satu penumpang menyatakan dirinya sudah berada di Pelabuhan Calang, Aceh Jaya, sejak Selasa pagi dan bersiap berangkat ke Pulau Simeulue, Aceh.
Namun karena gagal berangkat dirinya terpaksa bermalam bersama sejumlah penumpang lainnya karena kapal ternyata tidak memiliki BBM.
Sementara itu Kepala Syahbandar Pelabuhan Calang, Aceh Jaya, diwakili Pejabat Pembuat Komitmen, Azwana Amru Harahap yang dikonfirmasi terpisah, Rabu, membenarkan kalau KM Sabuk Nusantara 110 tidak bisa berangkat karena tidak memiliki BBM.
“Karena ada kesalahan sistem pembayaran pihak operator kapal sehingga pihak pertamina tidak bisa proses DO (delivery order) nya,” kata Amru.
Arifin berharap kedepan masalah seperti ini tak lagi menimpa kapal perintis. “Kami berharap masalah keterlambatan pengisian BBM tak terjadi lagi. Jangan Pertamina mengisi BBM di ‘incrit-incrit’ karena berakibat merugikan semuanya,” katanya. (ant/**)






























