Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Sarana dan Prasarana Perhubungan, Asmari Herry menyatakan kalau pelabuhan Tanjung Priok bisa saja dijadikan sebagai pelabuhan transhipment, tergantung niatan pemerintah.
“Semuanya bisa, sepanjang ada niat serikus dari pemerintah (Kemenhub) selaku regulator,” kata Asmari kepada Ocean Week, di Kantornya, kemarin.
Apalagi, ujar Asmari, Indonesia memiliki potensi sekitar 10 juta TEUs, dan Tanjung Priok sekitar 7 juta TEUs. “Yang jelas kita sudah ada potensi. Jadi bagaimana sekarang tinggal mendorongnya saja,” ucapnya lagi.
Beberapa waktu lalu, Direktur Pelindo II Elvyn G. Masassya pernah menyatakan bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menargetkan Pelabuhan Tanjung Priok menjadi hub transshipment global pada 2020. Pihaknya sudah menyiapkan untuk merealisasikan program hub global itu.
Ada tiga fase transshipment yang harus direalisasikan berdasarkan periode tertentu, antara lain fase 1 berlangsung pada tahun ini sampai 2018, fase 2 berjalan pada 2018-2019, dan fase 3 diimplementasikan pada 2019-2020.
“Untuk fase 1 itu kami berupaya agar Tanjung Priok melayani kedatangan kapal besar ekspor-impor Pantai Barat Amerika Serikat (AS), Eropa Utara, dan Asia Timur. Di Indonesia sendiri kami akan mengkonsolidasikan kargo dari empat wilayah operasi Pelindo II dan juga Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang,” jelas Elvyn di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kata Elvyn, bila fase 1 tercapai, akan ada potensi alih muat peti kemas sebesar 1,4 juta twenty foot equivalent units (TEUs) per tahun. Perinciannya adalah peti kemas dari dan ke Pantai Barat AS sebesar 624.000 TEUs/ tahun, Asia Timur 500.000 TEUs/tahun, dan Eropa Utara 312.000 TEUs/tahun.
Saat ini, pihaknya sudah berhasil mendatangkan kapal besar yang melayani rute Jakarta-Pantai Barat AS. Kapal tersebut dioperasikan oleh perusahaan pelayaran asal Prancis CMA CGM. Dia menambahkan, operator pelayaran itu pun segera melayani rute baru Tanjung Priok-Eropa Utara.
Elvyn juga menuturkan, Pelindo II harus lebih banyak lagi mendatangkan kapal-kapal besar pada fase 2. Pasalnya, operator pelabuhan ini berniat menghubungkan Tanjung Priok dengan Pantai Timur AS, Eropa, Australia, dan Asia Timur. Sedangkan, pelayanan kargo di Indonesia diproyeksikan telah mencakup delapan wilayah, termasuk Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Makassar, dan Belawan.
“Fase 2 itu tahun 2018-2019. Kami sudah masuk ke Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Nanti, potensi kargo transshipment yang dapat terlayani bisa mencapai 2,6 juta TEUs/tahun,” ungkapnya.
Elvyn menambahkan, pada fase 3, pihaknya menaksir potensi kargo alih muat di Priok bisa mencapai 3 juta TEUs/tahun. Adapun, wilayah yang terlayani mencakup semua wilayah di dunia dan Indonesia. “Mulai 2019, mudah-mudahan kami bisa masuk ke berbagai belahan dunia dengan kargo yang berasal dari seluruh wilayah indonesia,” ucapnya.
Pelabuhan Tanjung Priok, ujar Elvyn, mempunyai keunggulan untuk dijadikan hub alih muat global. Menurutnya, pelabuhan ini memiliki letak strategis yang didukung dengan pelayanan mumpuni. Dia menyatakan, dari sisi infrastruktur, Pelabuhan Tanjung Priok sudah didukung dengan kedalaman ideal, yakni 16 m, untuk melayani kapal-kapal besar berkapasitas hingga 10.000 TEUs.
“Lokasi Tanjung Priok sangat strategis untuk jadi transshipment karena bisa menerima feeder dari Jawa, dari Indonesia timur, dan bahkan Sumatera,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, terdapat sejumlah keuntungan dengan menjadikan Tanjung Priok sebagai hub transshipment global. Salah satunya adalah memangkas waktu transit sampai tujuh hari ketimbang pelabuhan lain. Selain itu, alih muat di Tanjung Priok juga bisa mereduksi biaya US$100 per TEUs. (***)


























