Pelayaran sektor kontainer mulai berguguran, akibat persaingan mereka yang tak sehat.
Saling banting harga (Freight) itulah yang akhirnya membuat satu persatu dari mereka ‘mati’.
Jika pelayaran sektor petikemas sampai sekarang masih eksis, itu karena cros subsidi.
Waktu Ocean Week bertemu dengan pelayaran Tanto Intim, Meratus, Tempuran Emas, SPIL, di Jakarta, dalam sebuah acara diskusi yang digelar Hubla, cerita diatas tersebut dibenarkan mereka.
“Ongkos kontainer dari Perak ke Papua, kurang dari Rp 5 juta, belum termasuk THC-nya,” kata salah seorang dari SPIL dibenarkan pihak Meratus.
Kalau para pelayaran itu masih bertahan, misalnya Tempuran Emas, itu karena ada dana masuk dari serapan masyarakat, sebab perseroan sudah main di bursa saham.
Ditanya kenapa tidak kompromi saja untuk ongkos, mereka menjawab, jangankan kompromi, baru berencana saja sudah kena finalti oleh KPPU.
Apalagi selama dua tahun terakhir, telah terjadi penambahan space kapal yang sangat signifikan dengan masuknya kapal-kapal ukuran besar pada rute gemuk, terutama Medan-Jakarta-Surabaya-Makassar dan Sorong..
Selain bersaing antar sesama swasta, angkutan kontainer juga bersaing dengan operator kapal Tol Laut, terutama pada rute yang bersinggungan dengan rute yang sudah dilayani pelayaran niaga. (**)






























