Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang paling siap untuk kegiatan transhipment dibandingkan dengan pelabuhan lain di Indonesia.
“Kami terus melakukan persiapan, untuk menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transhipment terbesar di kawasan Asia. Dan kami sangat siap,” kata Capt. Hermanta, Kepala OP Tanjung Priok kepada Ocean Week, usai menghadiri acara pisah sambut Dirut PT JAI dari Dawam Atmosudiro ke Chiefy Adi K, di Jakarta Utara, Jumat (25/10).
Hermanta mengaku, jika Menhub Budi Karya Sumadi selalu mengingatkan jajarannya, untuk bisa menjadikan Priok sebagai transhipment.
Belum lama ini, Menhub Budi Karya menyatakan, ada tiga hal yang bisa menjadi kunci Pelabuhan Tanjung Priok bisa menjadi pelabuhan transhipment terbesar, yakni birokrasi, regulasi, dan tarif.
“Pemerintah terus berupaya menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menjadi pelabuhan transhipment terbesar di kawasan Asia. Kementerian Perhubungan menyatakan akan terus mendukung upaya ini dari berbagai hal,” kata Budi Karya.
Menurut Budi Karya, konsep Transhipment nantinya memotong jalur ekspor dan impor yang selama ini harus melalui Singapura ataupun Malaysia.
Tanjung Priok nantinya dijadikan sebagai pelabuhan pengumpul barang dari daerah dilakukan menggunakan kapal RoRo (roll on roll off) ke Pelabuhan Tanjung Priok. Lalu pengapalan dapat dilakukan dari Pelabuhan Tanjung Priok langsung ke negara tujuan.
“Saat ini Pelabuhan Tanjung Priok sudah menjadi pelabuhan yang berkembang. Ini bisa dilihat dari sudah masuknya kapal-kapal dengan kapasitas yang besar ke pelabuhan ini,” ungkap Menhub.
Sekarang ini kapal CMA CGM sudah mulai improve pengiriman bukan hanya ke Amerika tapi juga ke Eropa.
PT Pelindo II juga terus berupaya menjadi pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan transhipment yang dapat mengurangi pengiriman petikemas yang selama ini melalui Singapura. (**)






























