Konsultan kapal Denmark, Sea-Intelligence, memiliki analisis baru yang menunjukkan bahwa di sektor peti kemas saja, US$12 miliar telah dihemat melalui penggunaan scrubber.
Analisis tersebut dihitung dengan mengambil konsumsi bahan bakar global per hari di seluruh sektor peti kemas dan membuat asumsi bahwa jika X% kapasitas dilengkapi dengan scrubber maka X% bahan bakar tersebut akan menjadi IFO380 yang lebih murah daripada VLSFO.
Seperti diketahui bahwa IFO380 adalah Bahan Bakar Minyak Menengah dengan viskositas maksimum 380 Centistokes, yaitu 3,5 persen sulfur.
Sedangkan VLSFO adalah Bahan Bakar Minyak Sulfur Sangat Rendah yakni bahan bakar dengan kandungan sulfur tidak melebihi 0,50 persen.
Konsultan tersebut menetapkan tanggal 1 Januari 2020 menjadi hari pertama berlakunya pembatasan sulfur global, sebagai tanggal pembukaan studinya, dan mencatat bahwa pada tahun 2023 telah terjadi peningkatan baru dalam jumlah kapal yang dilengkapi dengan scrubber.
Dampak pembuangan limbah ke laut telah menjadi sumber perdebatan.
Sebuah studi yang diterbitkan pada bulan Juni dari Chalmers University of Technology di Swedia yang berfokus pada empat pelabuhan menghitung bahwa air yang dibuang dari scrubber menyumbang lebih dari 90 persen kontaminan yang ditemukan dalam sampel air.
Peraturan yang lebih ketat terhadap pembuangan air dari scrubber sangat penting untuk mengurangi kerusakan lingkungan laut, kata Anna Lunde Hermansson, mahasiswa doktoral di Departemen Mekanika dan Ilmu Maritim di Chalmers.
Air scrubber tidak hanya menyerap sulfur dari gas buang kapal, yang menyebabkan pengasaman air scrubber, namun juga kontaminan lain seperti logam berat dan senyawa organik beracun ikut tercampur.
Untuk scrubber loop terbuka, yang merupakan sebagian besar kit dijual di seluruh dunia, air scrubber yang terkontaminasi kemudian dipompa langsung ke laut.
Badan Pengelolaan Kelautan dan Air Swedia dan Badan Transportasi Swedia telah mengajukan proposal kepada pemerintah Swedia untuk melarang pembuangan air scrubber ke perairan pedalaman, bergabung dengan sejumlah negara lain yang telah menerapkan larangan pembuangan air scrubber.
Data terbaru dari Clarksons Research menunjukkan lebih dari 5.400 kapal, sekitar lima armada niaga global, kini dilengkapi dengan scrubber.
Meskipun scrubber telah berulang kali dipermalukan karena pembuangan asamnya ke dalam air, penelitian dari NASA pada bulan Oktober lalu menunjukkan bahwa tutupan sulfur global pada tahun 2020 telah memperbaiki kondisi atmosfer.
Studi dari badan antariksa Amerika menemukan bahwa apa yang disebut awan jalur kapal (ship track cloud) turun drastis pada tahun 2020, tahun pertama penerapan peraturan bahan bakar yang menyebabkan kandungan sulfur berkurang dari 3,5 persen menjadi 0,5 persen untuk sebagian besar armada global yang menggunakan scrubber. (**/scn)






























