General Manager (GM) Pelindo Bengkulu Capt. Joko S. mengatakan bahwa akhir Juni atau melesetnya pada awal Juli 2025, kelima belas kapal yang berada di dalam kolam pelabuhan Baai Bengkulu, diharapkan sudah bisa keluar, akibat pendangkalan alur pelayaran dan kolam pelabuhan yang terjadi sejak beberapa bulan lalu.
“Pengerukan masih progress terus semoga tidak lama lagi blocking alur bisa terbuka. Untuk 15 kapal yang berada di kolam masih belum bisa keluar,” ujarnya saat dihubungi Ocean Week, Senin pagi.
Menurut Capt. Joko, proses pengerukan pembukaan blocking alur membutuhkan waktu yang exstra sekali karena kontur nya pasir, sehingga sering longsor, dan pengulangan pengerukan berkali kali sehingga butuh waktu lagi untuk membuka blocking alur.
“Insyaalloh akhir Juni, atau melesetnya awal Juli, 15 kapal yang berada di dalam pelabuhan bisa keluar,” ungkapnya.
Ditanya mengenai kerugian yang diderita oleh perusahaan kapal tersebut, apakah sudah ada yang mengklaimnya, Capt. Joko menyampaikan sampai saat ini belum ada. “Sampai saat ini belum,” katanya singkat.
Seperti diketahui, anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, meninjau langsung proses pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, Minggu (22/6/2025) siang.

Kunjungan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap persoalan pendangkalan alur pelayaran yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir dan berdampak signifikan terhadap aktivitas logistik, termasuk ke Pulau Enggano.
Kedatangan Rieke bersama tim disambut oleh General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu, S. Joko.
Dalam tinjauan tersebut, Rieke sempat berdialog langsung dengan para operator kapal keruk dan pekerja di lapangan.
Pemeran sinetron sebagai Oneng ini juga menyapa para petugas dari berbagai daerah di Indonesia yang tengah terlibat dalam pengerjaan proyek vital ini.
Rieke menyebut bahwa upaya ini sangat penting untuk menyelamatkan kehidupan sekitar 4.300 jiwa warga Pulau Enggano yang terdampak secara langsung akibat terganggunya jalur logistik.
Rieke menegaskan bahwa proses ini tidak boleh hanya selesai di tahap pertama, namun harus berlanjut hingga alur pelayaran dan dermaga benar-benar berfungsi normal kembali.
Capt. Joko mengatakan saat ini, dua unit kapal keruk yakni CSD Costa Fortuna 3 dan AHT Costa Fortuna 5 telah diturunkan ke Pelabuhan Pulau Baai untuk melaksanakan pengerukan sesuai penugasan dari Kementerian Perhubungan.
Proses pengerukan dilakukan untuk mencapai kedalaman minus 4,5 meter pada tahap pertama, sebagai jalur emergensi agar kapal-kapal yang selama ini tertahan dapat keluar dan masuk kembali.
“Pengerukan dilakukan efektif selama 20 jam per hari, hanya berhenti untuk pemeliharaan karena medan banyak sampah, batu, dan kayu,” jelasnya.(***)





























