Direktur Kepelabuhanan Ditjen Hubla Kemenhub, M. Tohir menyatakan bahwa proyek pembangunan pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tetap On the Track atau sesuai dengan rencana pemerintah.
“Masih on the track untuk proyek pembangunan pelabuhan Patimban tahap 1 itu,” kata Tohir saat dikonfirmasi Ocean Week, di Jakarta baru-baru ini.
Meski dia mengakui ada sejumlah lahan yang masih dalam proses pembebasan oleh tim, namun hal itu tidak menganggu proses pembangunan pelabuhan.
Sebelumnya, Dirjen Hubla Agus Purnomo mengemukakan bahwa kebutuhan lahan untuk proyek ini sekitar 370 hektare, dengan anggaran Rp 863,14 miliar.
Dari jumlah itu, 15,2 hektare merupakan lahan untuk acces road senilai Rp 49,7 miliar dan 354,9 hektare lahan back up area senilai Rp 813,3 miliar.
“Pembiayaan sudah siap, uangnya ada sejak tahun lalu. Di tahun lalu Rp 500 miliar dari APBN, sisanya dianggarkan di APBN tahun ini, sudah kami usulkan,” kata Agus beberapa waktu lalu.
Pembebasan lahan untuk acces road meliputi 121 bidang tanah warga dan 24 bidang tanah nonwarga. Dari 121 bidang tanah warga, 81 bidang di antaranya sudah dibayarkan senilai Rp 31,8 miliar untuk lahan seluas 8,3 hektare.
Sedangkan 39 bidang lainnya seluas 3,1 hektare, masih proses pengajuan pembayaran ke LMAN senilai Rp 14,8 miliar. Sementara, 24 bidang tanah nonwarga meliputi satu bidang lahan milik Kementan, enam bidang milik PUPR, tiga bidang milik pemerintah desa, satu tanah wakaf, tujuh bidang jalan, dan enam bidang selokan.
Khusus untuk kebutuhan lahan acces road ini, terdapat satu bidang konsinyasi karena seluas 85 meter persegi senilai Rp 103,7 juta. Di sisi lain, kebutuhan lahan untuk back up area masih harus melalui proses pembebasan yang lebih rumit.
Terdapat 485 bidang yang harus dibebaskan, 422 di antaranya merupakan tanah milik warga.
Dari jumlah itu, 181 bidang berstatus dimusyawarahkan karena terdapat 18 bidang (tiga menolak, 15 belum memberikan keputusan) seluas 9,7 hektare senilai Rp 3,4 miliar. Adapun 33 bidang lain seluas 6 hektare masih kekurangan data.
Tohir menambahkan, proses pembangunan tetap berlangsung meski terdapat masalah pembebasan lahan. Sejauh ini, tahap pekerjaan konstruksi di lokasi laut sudah mencapai 13%.
“Pelabuhan Patimban sudah bisa beroperasi pada akhir 2019. Itu target pemerintah,” ungkapnya.
Nantinya, Pelabuhan Patimban beroperasi penuh pada 2027 mendatang.
Untuk diketahui, Pelabuhan Patimban merupakan proyek strategis nasional dengan target berkapasitas 7,5 juta TEUs serta 600.000 CBU kendaraan.
Sementara itu, pebisnis pelayaran mengaku keberadaan pelabuhan Patimban bisa menjadi alternatif atau pilihan bagi mereka melakukan kegiatannya selain di Tanjung Priok.
“Patimban bisa jadi pilihan bagi pelayaran, tinggal bagaimana servicenya setelah ada Patimban, apakah Priok lebih baik atau sebaliknya,” ungkap Asmary Herri, direktur Samudera Indonesia Shipping kepada Ocean Week, kemarin
Menurut Asmary, kedua pelabuhan itu (Priok dan Patimban) diharapkan nantinya bisa saling melengkapi. “Bisa juga bersaing positif,” katanya. (***)




























