Orient Overseas Container Line (OOCL) Hongkong, sekarang unit Cosco, telah memperkuat struktur armadanya dengan memperkenalkan satu lagi kapal miliknya berkapasitas 24.188 TEU yakni OOCL Felixstowe di galangan kapal Dalian COSCO KHI Ship Engineering.
OOCL mengundang sejumlah tamu terhormat, mitra, dan pelanggan untuk menyaksikan momen penting saat kapal tersebut diberi nama oleh He Lijun.
“Kami memesan rangkaian kapal peti kemas ultra besar ini tidak hanya untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan kami, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing biaya kami dan mengambil inisiatif untuk pengembangan di masa depan,” kata kepala eksekutif OOCL Yang Zhijian.
“Saya sangat percaya bahwa, dengan kepemimpinan dari Cosco Shipping, dukungan dari semua pemangku kepentingan dan kekuatan sinergi, OOCL pasti akan mencapai ketinggian baru dalam menciptakan nilai yang lebih besar bagi pelanggan, mitra, pemegang saham, dan masyarakat pada umumnya,” katanya menambahkan.
OOCL Felixstowe adalah kapal ramah lingkungan keempat berkapasitas 24.188 TEU yang diterima oleh OOCL dalam rangkaian 12 kapal, dan akan melayani layanan LL3 Asia-Eropa.
Kapal tersebut bakal melayani rute ke pelabuhan Shanghai, Xiamen, Nansha, Hong Kong, Yantian, Cai Mep, Singapura, Piraeus, Hamburg, Rotterdam, Zeebrugge, Valencia, Piraeus, Abu Dhabi, Singapura dan kembali ke Shanghai.
Orient Overseas Container Line (OOCL) masing-masing adalah nama dagang untuk Orient Overseas Container Line Limited (OOCLL) dan OOCL (Europe) Limited dan keduanya merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Orient Overseas (International) Limited, sebuah perusahaan publik (0316) yang terdaftar di Bursa Efek Hong Kong.
Berkantor pusat di Hong Kong, Cina, OOCL memiliki 130 kantor di lebih dari 100 kota besar.
Dengan kapal sangat besar, otomatis pelabuhan di Indonesia tak akan disinggahi, karena nya, Indonesia akan terus menjadi feeder Singapura, mengingat tak bisa direct call. Dan kapal-kapal sebesar 24 ribu TEU sangatlah banyak untuk saat ini dimiliki oleh perusahaan pelayaran raksasa dunia.
Pemerintah (Kemenhub) sudah seharusnya memikirkan regulasi bagaimana proteksi untuk pelayaran dalam negeri bisa tetap bertahan di negeri sendiri, karena jangan sampai mereka ramai-ramai memindahkan kapal-kapal kecilnya ke Indonesia dengan mengganti bendera merah putih. “Ini mestinya yang harus diantisipasi oleh pemerintah mulai sejak sekarang,” kata Capt. Zaenal Hasibuan, pengamat kemaritiman dari CAAIP. (**)





























