PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan PT Pelindo Regional 2 Ciwandan, Banten menyatakan telah menyiapkan fasilitas untuk angkutan Lebaran 2026.
Hari Selasa (3/3), Ocean Week berkesempatan melakukan kunjungan langsung ke pelabuhan Merak dan Ciwandan Banten untuk melihat persiapan kedua pelabuhan lintasan penyeberangan bagi pemudik dari pulau Jawa ke pulau Sumatera tersebut.
Saat di Merak, Ocean Week didampingi Vidon, Executive Director Regional 2 PT ASDP bersama jajarannya, berkeliling ke 7 dermaga (baik eksekutif maupun reguler) yang pada saat masa Lebaran bakal digunakan melayani pemudik menggunakan kendaraan roda empat maupun bus.
Terik matahari cukup menyengat siang itu, namun tak menyurutkan Ocean Week dan tim ASDP untuk mengetahui berbagai persiapan yang dilakukan oleh BUMN ASDP tersebut.
Ratusan truk barang tampak mengantre diberbagai dermaga menunggu kapal yang akan mengangkutnya ke pulau Sumatera.

Informasi yang diperoleh Ocean Week, menyebutkan bahwa truk-truk itu sengaja melakukan pengiriman lebih awal semata untuk menghindari larangan sesuai SKB (surat keputusan bersama) antara Direktur Jenderal Perhubungan Darat dan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Kepala Korp Lalu Lintas Kepolisian RI dan Direktur Jenderal Bina Marga, yang bakal diberlakukan selama masa angkutan Lebaran mulai 13 Maret mendatang.
Sunaryo, salah seorang sopir mengaku truk dilarang lewat pelabuhan Merak ketika masa angkutan Lebaran 2026 diberlakukan. Makanya, pengiriman barang (sembako) ke wilayah Sumatera dipercepat. “Kalau sudah Lebaran truk nggak bisa lewat Merak, lewat pelabuhan lain macet (dermaga BBJ). Kenapa ya truk nggak boleh lewat Merak, kan disini kapalnya banyak,” ungkapnya sedikit bertanya.
Sewaktu di dermaga eksekutif 1, Ocean Week pun sempat melihat proses kendaraan truk menaiki kapal milik ASDP. Satu per satu truk-truk naik dengan tertib, setelah melalui pemeriksaan oleh petugas.
Dan ternyata tak sedikit sopir truk yang menanyakan adanya pelarangan itu. “Kan kalau diatur nggak akan susah dan macet. Daripada lewat pelabuhan lain (BBj-red) malah lama. Kalau kita bawa muatan basah, bisa-bisa rusak, karena ngantri panjang,” ujar Kasno, asal Pati Jateng.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Merak, Togar Napitupulu yang dimintai komentarnya sehubungan keluhan para sopir truk yang menginginkan agar truk dibolehkan lewat pelabuhan Merak saat musim libur Lebaran, mengaku sepakat dengan para sopir.
“Merak sebenarnya mampu untuk menampung truk-truk sembako yang akan menyebrang ke Sumatera, asalkan diatur dengan benar. Mungkin siang hari truk bisa lewat sini (Merak), jadi fleksibel saja, dimana ada dermaga yang kosong bisa digunakan, bukan dilarang,” katanya di Merak, Selasa.
Togar menegaskan, pada saat angkutan Lebaran, sebenarnya anggota Gapasdap sudah siap rugi. Mengingat kapal hanya mengangkut ke pelabuhan tujuan (merak Bakauheni), sebaliknya dari pelabuhan Sumatera ke Merak kosong. Padahal tarif tetap, tak seperti angkutan bus yang ada tuslah.
Meski begitu, Togar menyatakan tetap taat mengikuti aturan pemerintah yang sudah disepakati. Hanya saja, ujarnya, jangan sampai saat Lebaran yang sudah menjadi kegiatan rutin, terkesan seakan-akan memindahkan masalah di Merak ke pelabuhan lain.
Itu juga yang diperhatikan oleh H. Alawi, tokoh masyarakat Banten yang juga pengusaha di Cilegon. “Saya juga kurang setuju Ciwandan dipakai sebagai pelabuhan penyeberangan orang (kendaraan roda dua ke Sumatera), karena Ciwandan itu pelabuhan kargo, sehingga aktivitas kargo terhenti. Padahal industri sangat membutuhkan bahan baku, tapi karena pengapalan juga stop ya terpaksa tertunda, nah ini kan sangat merugikan kami sebagai pengusaha,” kata Alawi yang juga ketua DPW APBMI Banten.

Alawi berharap Menhub Dudy Purwaghandi bisa mengevaluasi akan hal ini. “Yang penting bagaimana pelabuhan penyeberangan Merak dioptimalkan. Aturan tegas, apalagi sekarang tiket penyeberangan sudah online. Masyarakat yang akan menyeberang juga mesti mengikuti jadwal sesuai tiket. Kita mesti mencontoh penerbangan dan kereta api, kenapa di moda transportasi itu bisa, di penyeberangan nggak bisa diterapkan. Saya rasa kalau model itu dilakukan dengan tegas, masyarakat pengguna jasa penyeberangan akan ikut,” ungkapnya.
Jadi, Alawi menyatakan setuju kalau pada masa Lebaran, Menhub tak perlu menggunakan Ciwandan dan pelabuhan lain, cukup di pelabuhan Merak saja. Asal aturan mainnya tegas, pengawasannya bener, dan aparat terkait berperan sesuai perannya, Alawi yakin bisa lancar dan tak terjadi kemacetan. “Lagi pula macet saat Lebaran itu biasa,” katanya.
ASDP Siapkan Lahan Parkir
Vidon menyampaikan jika pihak ASDP sudah menyiapkan areal tambahan untuk lahan parkir kendaraan penumpang (mobil pribadi) dilahan Indah Kiat (IKPP) seluas 93.426 M2, maupun lahan lain untuk memperlancar pelayanan di pelabuhan Merak pada periode Angkutan Lebaran (Angleb) di 2026/Idul Fitri 1447 H.
Vidon mengatakan, nantinya lahan buffer itu bisa menampung sekitar 2.000-an kendaraan penumpang (mobil pribadi).

“Buffer tersebut untuk mengantisipasi jika terjadi lonjakan arus kendaraan penumpang yang hendak menyeberang dari Merak tujuan Bakauheni,” ujarnya.
Vidon mengungkapkan, buffer area di pelabuhan Indah Kiat Merak tersebut diharapkan rampung pada 5 Maret 2026, Di lokasi itu juga disiapkan fasilitas seperti tempat makan, istirahat, maupun toilet bagi penumpang. “Hampir di semua dermaga kami juga menyiapkan toilet, tempat ibadah, toko, dan sebagainya sehingga memudahkan calon penumpang,” ungkapnya.
Saat ditanya kapan puncak angkutan Lebaran Merak Bakauheni, Vidon mengungkapkan bahwa puncak arus mudik diprediksi mulai H-3 s/d H+2 Lebaran. Bahkan dia memperkirakan 30 ribuan- sampe 46 ribu-an kendaraan roda dua, mobil kecil dan bus setiap harinya mintas di periode itu.
“Per hari ini kesiapan kami di Pelabuhan Merak sudah 90% dalam melayani Angleb tahun ini,” ungkap Vidon yang pada kesempatan itu didampingi Umar Imran selaku General Manager ASDP Merak.
PT ASDP terus mematangkan kesiapan layanan penyeberangan di lintasan tersibuk nasional Merak–Bakauheni guna memastikan seluruh aspek operasional, keselamatan, hingga pengaturan lalu lintas terintegrasi berjalan optimal guna menghadirkan perjalanan mudik yang lebih tertib dan lancar bagi masyarakat.
Adapun pada lintasan Merak–Bakauheni disiagakan 28–33 kapal per hari, lintasan Ciwandan–Wika Beton sebanyak 9–12 kapal per hari, serta lintasan BBJ Bojonegara–BBJ Muara Pilu sebanyak 10–12 kapal per hari.
ASDP juga siap menerapkan pola operasi Tiba–Bongkar–Berangkat, di mana kapal yang sandar langsung melakukan bongkar muatan dan kembali berlayar tanpa jeda guna mempercepat rotasi kapal dan menekan antrean kendaraan.
Sementara itu, kebijakan single tarif diterapkan khusus di Pelabuhan Merak pada 13 Maret 2026 pukul 12.00 WIB hingga 20 Maret 2026 pukul 15.00 WIB, serta di Pelabuhan Bakauheni pada 23 Maret 2026 pukul 00.00 WIB hingga 29 Maret 2026 pukul 24.00 WIB. Skema ini mencakup pejalan kaki dan kendaraan golongan I, II, III, IVA, VA, hingga VIA guna mendukung distribusi layanan yang lebih merata pada puncak arus pergerakan.
ASDP juga mengimbau seluruh pengguna jasa agar segera melakukan pembelian tiket secara mandiri melalui aplikasi dan website Ferizy ataupun sales channel resmi, dan pastikan telah bertiket sebelum berangkat, dan tiba di pelabuhan sesuai jadwal tertera di tiket.
Sedangkan GM Pelindo Regional 2 Ciwandan Benny Ariadi menyatakan pihaknya sudah siap dengan fasilitas (dermaga) untuk digunakan sebagai lintasan pemudik menyebrang ke Sumatera saat masa lebaran.
“Kami sudah siap, sesuai arahan pemerintah,” katanya usai rapat koordinasi angkutan Lebaran bersama kepolisian Banten, PT ASDP, dan KSOP Banten. (***)




























