Disentil Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal masih mahalnya cost logistik antar daerah meski sudah ada program tol laut, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengakui jika kontribusi transportasi laut pada ekonomi masih sangat rendah.
“Dalam lima tahun lalu, pemerintah sudah menjalankan program tol laut. Saya lupa angkanya, tapi kita punya targetnya dan itu cukup. Belum sampai (1%) kayaknya,” kata Luhut kepada pers di Istana Negara, Jakarta.
Luhut menyatakan, ke depan pemerintah akan mendorong lebih jauh lagi agar program tol laut dapat berjalan lebih efektif. Sehingga, program ini bisa berkontribusi lebih besar lagi bagi perekonomian negara.
Luhut juga menyatakan wajar jika Presiden Joko Widodo kesal dengan prgoram tol laut yang berjalan kurang efektif. “Sejak awal program tol laut ini dilaksanakan untuk menciptakan keadilan. Tujuan awal dari program tol laut ini adalah untuk memangkas biaya logisitik yang masih mahal, khususnya untuk pengiriman menuju wilayah Indonesia bagian timur. Namun hingga saat ini masih ditemukan laporan bahwa ongkos logistik masih mahal,” ungkapnya.
Oleh karena itu untuk menignkatkan kontribusi dari tol laut untuk ekonomi negara, pemerintah akan memaksimalkan kapal-kapal berukuran semi kecil di wilayah Indonesia timur agar bisa mendapatkan fasilitas tol laut.
Luhut mengaku optimis dengan cara ini, kontribusi program tol laut bisa naik meskipun jika dilihat secara angka masih sangat kecil. “Kita sekarang, yang kapal-kapal semi kecil ke daerah terpencil ditingkatkan. Sebanyak mungkin. Tentu tidak semua yang dicapai. Tapi akan banyak,” jelas Luhut.
Sebelumnya, saat membuka rapat bersama para Menterinya, Presiden Joko Widodo menginginkan agar program tol laut bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah. Sebab saat ini kontribusi tol laut bagi perekonomian masih sangat rendah sekali.
Kontribusi transportasi laut pada perekonomian secara keseluruhan hanya menyumbang 0,3% saja. Angka ini jauh dari tertinggal dari yang lainnya seperti transportasi darat yang mencapai 2,4% pada 2019.
Bahkan menurut Jokowi, dibandingkan transportasi udara juga, masih tertinggal jauh. Adapun kontribusi transportasi udara pada perekonomian negara mencapai 1,6% pada 2019 meningkat 1,03% dibandingkan tahun 2014.
“Sebaliknya peranan transportasi laut selama ini sangat rendah justru menurun dari 0,34% di tahun 2014 menjadi 0,32% di tahun 2019,” kata Jokowi.
Menurut Jokowi, biaya logistik antar daerah juga masih mahal. Presdien memisalkan Ongkos dari Jakarta-Padang, lebih mahal dibandingkan dengan tarif Jakarta-Hongkong.
Kalangan pelayaran minta supaya pemerintah bisa membedah tuntas tol laut ini, karena pelayaran merasa yang selalu dijadikan ‘kambing hitam’ sebagai penyebab mahalnya biaya logistik. “Kami ingin pemerintah bedah tuntas soal tol laut ini, siapa saja yang berkontribusi menjadikan biaya tol laut mahal,” kata Asmari Heri Prayitno, pengamat maritim dari pelayaran PT Samudera Indonesia, kepada Ocean Week, pagi ini. (oz/**)





























