Sebanyak 590 pohon mangrove ditanam ditiga wilayah yakni di pantai Kubu, RT 5, dan RT 7 pesisir pantai Kumai, Pangkalan Bun, Kalteng, pada Minggu (7/10).
Penanaman pohon mangrove oleh KSOP Kumai Capt. Wahyu, didampingi Kepala Humas Ditjen Hubla Gus Rional, dan Wisnu Wardhana (Humas Hubla), dibarengi dengan turunnya hujan yang cukup lebat.
Namun, situasi dan kondisi tersebut tak mengurangi niat pemerintah (Kemenhub) untuk tetap menanam pohon yang dapat melindungi habitat hewan laut tersebut.
Usai melaksanakan program itu, Ocean Week mencoba menginterview Capt. Wahyu mengenai beberapa hal, terkait dengan potensi, rencana dan yang sedang dikerjakannya untuk pelabuhan Kumai, sambil ngopi di sebuah kedai kecil ditepi pantai, berikut petikannya.
Apa program bapak saat ini?
Kami sedang melakukan banyak hal, salah satunya sertifikasi terhadap kapal tradisional sebagai alat transportasi sungai. Saat ini sudah sekitar 250 yang sudah memperoleh sertifikasi, tinggal 100-an kapal lagi.
Proses dan prosedurnya?
Kita melakukan pengukuran lebih dulu kepada kapal, dimana dari pengukuran itu nantinya terdaftar kapal tradisional ini berbendera indonesia, terus ketentuan ketentuan untuk safety kita munculkan untuk sertifikat keselamatan. Kalau dia (kapal) memenuhi standar sertifikat ya selesai. Tapi, sejauh ini sudah proses dan ada yang masih proses.
Kapan muncul sertifikasinya?
Secepatnya. Jadi untuk melakukan awal adalah pengukuran. awal dari sertifikat yang dikeluarkan oleh kapal kapal penumpang tradisional ini dikeluarkan oleh dinas, terus kita sampaikan ke dinas bahwa pengambilan fungsi untuk sertifikasi mengeni pengukuran sertifikasi ada di Hubls Kemenhub.
Syaratnya?
Syarat yang harus dipenuhi mesti radio, life jacket pelampung, komunikasi peta dan juga knoting teknik radio.
Bagaimana dengan pengawasan?
Alhamduliah untuk pengawasan kita selalu bersinergi dengan stakeholder TNI Polri dan instansi terkait dimana kapal penumpang tradisional ini memuat pariwisata lokal maupun tradisional. Nah sementara ini mudah mudahan secepatnya tahun depan kita semua bisa sertifikasi sama sosialisasi keselamatan bisa utama di daerah Kumai ini.
Sertifikat untuk?
Sertifikat keselamatan penumpang tradisional. Sekitar 100 lagi, sebab 250 kapal sudah.
Untuk program kapal wisata gimana?
Kapal wisata sendiri tempatnya di Tsnjung Puting yang dilihat itu orang hutan. Lalu Tanjung Keluang yang tadi Pantai Kubu itu menyeberang itu yang dilihat itu pantainya sama untuk penangkaran penyu.
Ada berapa kapal?
Untuk kapal kapalnya yang selama ini masih beroperasi kapal tradisional. Kami sudah mengajukan ke Permukaan, ke dinas provinsi maupun dinas Kobar (kota Waringin barat) untuk upaya meremajakan transportasi lokal ini.
Jadi?
Transportasi ini kan kearifan lokal. Jadi mengenai transportasi ya daerah dulu peningkatannya. Ini kan masyarakat semua pelakunya. Kalau seandainya pusat melakukan ini, ya ada kajian. Kapal tradisional disini di Kumai disebut klotok itu ada 100 unit. Kalau untuk kapal pariwisata, perahu yang ada di Kubu Tanjung keluang itu ada kurang lebih 25 unit untuk mengangkut pariwisata lokal.
Bagaimana dengan keselamatan?
Kami selalu menghimbau kepada mereka dan terus menerus sosialisasi. Saat ini akan diberikan life jacket sejumlah 350 yang 200 dari DitKPLP, 150 dari stakeholder TNI Polri dan instansi terkait.
Ada kapal klotok dan wisata?
Ya. Kapal klotok dipakai untuk alur sungai. Kapal pariwisata untuk mencapai ke Tanjung Kelung. Kapal pariwisata yang kayak perahu nelayan. Speedboat juga untuk penyebrangan yang di bawah 7 GT. Ini sudah kami lakukan pengukuran. Ada kurang lebih total semua 150. Suah kami data, kita lakukan pengukuran. (rid/**)






























