Menhub Budi Karya Sumadi ingin layanan di pelabuhan Tanjung Priok transparan, cepat, mudah, dan murah. Ungkapan Budi Karya itu disampaikannya sewaktu Menhub melakukan kunjungan ke JICT untuk meminta masukan dari para pengguna jasa terminal terbesar di Indonesia tersebut baru-baru ini.
“Kita ingin melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kebijakan yang kami lakukan. Kami nanti ingin ketemu dengan pihak-phak yang berkepentingan untuk menuju layanan baik. Priok ini, bagaimana layanan dapat transparan, cepat, mudah, dan murah, Makanya, kami datang kesini (JICT-red) untuk mendapat masukan para stakeholders,” kata Budi Karya.
Keinginan dan harapan service pelabuhan Priok mudah, transparan, cepat, dan murah itupun pernah didiskusikan dalam acara yang diprakarsai kantor otoritas pelabuhan (OP) Tanjung Priok, beberapa waktu lalu di Ibis Style Hotel, Jakarta Utara.
Memang, baik waktu dihadapan Menhub maupun saat diskusi di Ibis Style ada semacam komitmen, semua ingin supaya pelabuhan Tanjung Priok terus membaik dari segala sisi, khususnya layanan dan produktivitas bongkar muat yang tinggi.
Arif Toha, Kepala OP Tanjung Priok, saat paparan dihadapan Menhub Budi dan stakeholders pelabuhan Priok, juga menyatakan, pemerintah (kantor OP) terus berupaya melakukan inovasi terkait pelayanan cepat, murah, mudah dan transparan.
Sejumlah sistem sudah disiapkan, misalnya Inaportnet V.2, DO Online, E-Billing, TPS Online, TID, Trucking Booking System, CFS Center, penerapan metode cluster oleh Bea Cukai, serta Auto Gate System.
“Semua itu untuk mempercepat layanan kapal maupun barang di pelabuhan Tanjung Priok. Bulan Juni nanti DO Online akan melengkapi pelaksanaan sistem online tambahan di pelabuhan Pak Menteri,” kata Arif Toha melaporkan hal itu ke Menhub.
Arif menambahkan, bahwa pihaknya terus mendorong para pengguna jasa untuk menggunakan aplikasi DO Online tersebut. “Sudah ada beberapa yang menggunakan sistem itu, dan kami akan mendorong kepada pengguna jasa untuk bisa menggunakan aplikasi ini,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga sedang merancang aplikasi terhadap 30 ribu truk, yang modelnya seperti Go Jek.
Mengubah Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang sempurna sungguh tidak mudah. Karena, disini banyak kepentingan yang tak ‘kelihatan’. Sejumlah pelayaran kepada Ocean Week mengakui, jika pemerintah (Kemenhub dan Bea Cukai) sudah berusaha untuk memperbaiki kinerjanya. Namun, masih terdapat institusi yang lambat melakukan perubahan.
Apakah karena, instansi di pelabuhan Priok yang terlibat, bekerja atas dasar undang-undang di masing-masing institusi, sehingga masih sulit untuk diajak lari dan finish bersamaan.
Sebagai contoh, beberapa institusi di pelabuhan internasional ini, dalam urusan dokumen, terkadang masih sering menghambat dengan berbagai macam alasan. Akibatnya, apa yang menjadi keinginan Menhub Budi membuat Priok dengan layanan mudah, murah, cepat dan transparan, terkesan hanyalah teori belaka. Karena mungkin di jajarannya mensupportnya, tapi institusi lain belum tentu sepemahaman dengan Menhub.
Mengingat di Priok, slogan ‘kalau masih bisa dipersulit kenapa dipermudah’ masih terjadi di pelabuhan ini. Memprihatinkan memang, namun itu kenyataan. “Jadi dirasa ada, dilihat tak nyata”, itulah Tanjung Priok.
Contoh lain, bagaimana pemerintah maupun Pelindo II masih sulit mewujudkan transhipment untuk pelabuhan Priok ini. Itu karena adanya berbagai kepentingan. Padahal, kalau semua berpikir untuk kepentingan bangsa dan negara, pasti bisa.
Seperti diketahui, di Priok terdapat 5 terminal petikemas yakni JICT, TPK Koja, MAL, NPCT1, dan TO3. Masing-masing terminal mengklaim sudah memiliki sistem layanan yang bagus, meski tetap saja masih ada kelemahan di masing-masing operator terminal tersebut. Namun sejauh catatan Ocean Week, semuanya terus berusaha melakukan pengembangan dan perbaikan sistem layanannya.
Mudah-mudahan dengan diberlakukannya sistem online melalui inaportnet, DO Online yang terintegrasi dengan INSW, dapat mewujudkan Tanjung Priok sebagai pelabuhan dengan layanan yang mudah, cepat, efisien, transparan, dan murah, sehigga nantinya cost logistik pun akan murah, dan efeknya daya saing Indonesia dengan asing bisa dilakukan.
Semua ini dapat terealisasi, kalau para stakeholders di Priok memiliki visi dan misi sama untuk kemajuan pelabuhan ini. (***)




























