Indonesia National Shipowners Association (INSA) Medan, Sumatera Utara (Sumut) mendesak pemerintah dan PT Pelindo segera melakukan pengerukan alur pelayaran dan kolam pelabuhan Belawan, karena pendangkalan yang semakin dirasakan kalangan pelayaran yang berkegiatan di pelabuhan ini.
“Karena memang ini kebutuhan yang sangat urgent sekali untuk pelabuhan Belawan menghadapi arus export yang terus meningkat. Sekarang kargo pada lari ke Kuala Tanjung dengan biaya labuh mahal karena kondisi kolam di Terminal A dan alur pelayaran pelabuhan Belawan yang hanya 7.5 meter saat ini, sehingga kapal ukuran besar tak bisa masuk,” ujar Hendra W. Kusuma, Ketua DPC INSA Medan (Belawan) saat dihubungi Ocean Week, Selasa malam, di Sumut.
Selain itu, Hendra juga menyampaikan supaya Pelindo melakukan peremajaan alat bongkar muat, seperti RTG di BNCT agar BSH bisa mencapai 40 box per jam.
Sementara itu, informasi dari Pelindo menyebutkan bahwa pengerukan alur pelayaran dan kolam pelabuhan Belawan masih dalam tahap konsultasi publik untuk mengatasi masalah sedimentasi yang tinggi.
Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kinerja bongkar muat di pelabuhan Belawan.
Wakil Direktur Operasional dan Komersial PT TMS Line, Sunarno HS kepada Ocean Week mengatakan, proses pengapalan alat bongkar muat peti kemas merk SANY dari Tiongkok tersebut dilakukan oleh MV. HAI TENG 007 V.2604 yang diageni PT Pelayaran Tresnamuda Sejati (TMS).
Data mencatat bahwa PMT Terminal Belawan kini memiliki 8 unit QCC dan 16 unit RTG. (***)






























