Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada Minggu (16/6) meninjau Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Dalam kesempatan itu, Menhub menginstruksikan jajaran PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) untuk mempercepat penanganan rob (banjir air laut) dan penurunan daratan di Pelabuhan Tanjung Emas.
Menanggapi masalah rob pelabuhan Tanjung Emas, ketua INSA Semarang Hari Ratmoko dan ketua ALFI Jateng-DIY Teguh Arif Handoko mengatakan jika rob di Tanjung Emas dinilainya cukup menganggu aktivitas lalu lintas barang dari dan ke pelabuhan.
“Sangat terganggu, karena akan mengakibatkan truck pengangkut barang (Petikemas) berkarat. Perawatan menjadi tinggi, dan juga apabila pas air rob masuk ke kampas rem, besoknya kita harus bongkar, karena remnya jadi macet/trouble, dan itu menjadi biaya tinggi,” ungkap keduanya kepada Ocean Week yang dihubungi secara terpisah, Senin sore (17/6).
Meski begitu, baik Teguh maupun Hari menyatakan belum perlu untuk memindahkan pelabuhan Tanjung Emas, dengan membangun pelabuhan baru.
“Saya setuju dengan pak Menhub (Budi Karya Sumadi), bahwa pelabuhan Tanjung Emas harus dibenahi infrastrukturnya khususnya dalam penanganan air ROB. Sebab, dermaga masih mampu untuk melayani 1,5 juta TEUs dan saat ini masih pada posisi kurang lebih 800 ribu TEUs. Yah..menurut saya jangan pindah dan jangan bangun terus pelabuhan baru, karena kargo yang ada tidak seimbang dan akhirnya mangkrak,” tegas Teguh.
Menurut Teguh, pelabuhan Tanjung Emas
masih mampu untuk beroperasi dengan baik untuk masa waktu 30 tahun mendatang, asalkan secara teknis penanganan rob nya dilakukan dengan baik. Jangan asal peninggian tanggul terus, itu sifatnya hanya sementara.
Hari Ratmoko mengakui kalau Rob masih mengunjungi dan terjadi di Tanjung Emas & sepanjang Pantai Utara. “Saya setuju Pelindo agar bisa mengatasi masalah rob dengan tepat,” ujarnya.
Menjawab apakah perlu Tanjung Emas dipindahkan, Hari menegaskan bahwa INSA pinginnya pelabuhan Tanjung Emas tidak dipindah, dan tetap di pelabuhan yang sekarang. “Hanya saja infrastrukturnya harus diperbaiki. Soal dam alur masuk kolam pelabuhan perlu diperbaiki karena sudah tertutup air laut, sehingga bisa membahayakan lalu lintas kapal,” kata Hari.
Hari menyampaikan meski air rob menggangu aktivitas, namun kegiatan pengapalan barang masih bisa berjalan,” ujarnya.
Seperti diketahui bahwa pada Minggu kemarin, saat Menhub ke Tanjung Emas, menyatakan jika Pelindo menganggarkan biaya Rp 1,2 triliun untuk melakukan rekayasa konstruksi sebagai penanganan masalah rob.
Pengerjaannya sudah dilakukan sejak tahun lalu dan ditargetkan selesai pada 2028.
“Pelindo memiliki rencana untuk melakukan perbaikan dengan anggaran Rp 1,2 triliun, hanya waktunya terlalu lama, baru akan terjadi di 2028. Oleh karenanya saya minta Pelindo melalukan suatu percepatan, mengingat Jawa Tengah ini centernya di Tanjung Emas. Percepatan itu sendiri disertai suatu kajian yang lebih detail karena penurunan ataupun naik rob menjadi 11 cm,” kata Budi Karya.
Menhub menjelaskan rekayasa konstruksi harus dilakukan secara lebih tepat. Kalau tidak cepat, barang-barang di Jawa Tengah tidak semuanya ke Pelabuhan Tanjung Emas, sebagian akan ke Jakarta atau Surabaya.
“Hal ini membuat ongkos logistik bisa menjadi lebih tinggi,” kata Budi.
Saat ini akumulasi rob di Pelabuhan Tanjung Emas telah mencapai 11 cm yang terdiri dari tinggi rob mencapai 5 cm dan daratan pelabuhan turun sebanyak 6 cm.
Budi menyatakan, Pelindo juga perlu mencari teknologi yang dapat menangani masalah tersebut secara permanen, seperti yang sudah diterapkan di pelabuhan-pelabuhan Jakarta dan Surabaya. Sebab, kenaikan air laut akan terus terjadi.
“Kalau dibuat dengan struktur yang lebih baik lagi, maka rob ada, tapi penurunan pelabuhan tidak terjadi. Rob ini tidak hanya ada di Pelabuhan Tanjung Emas, tapi terjadi di seluruh Pantai Jawa,” kata Menhub Budi Karya Sumadi. (***)






























