Pemerintah (Kemenhub) terus melakukan evaluasi terhadap program tol laut. Apalagi setelah beberapa waktu lalu presiden Jokowi meminta supaya program tol laut ini bisa lebih efektif dan efisien.
Karena itu, pada Kamis (12/3), direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub Capt. Wisnu Handoko, saat jumpa pers menyebutkan jika Kementerian Perhubungan akan mengembangkan infrastruktur pelabuhan sebagai salah satu bentuk evaluasi program tol laut.
“Perbaikan dan pengembangan pelabuhan sangat penting karena di beberapa daerah, pelabuhannya bisa dibilang berhasil dalam program tol laut karena distribusi barangnya berjalan, namun aksesnya terbatas,” katanya.
Capt. Wisnu mencontohkan di Pelabuhan Dobo, Maluku. “Itu pelabuhan tua zaman Belanda sudah ada dan berkembang, tapi jalannya sempit. Dipakai truk biasa saja sudah penuh padahal konsep kontainer bisa dibawa nanti dibongkarnya di tempat yang jauh dari dermaga kapal,” ujarnya lagi.
Selain Dobo, ungkapnya, pelabuhan yang memiliki kinerja baik dalam program tol laut, yakni Saumlaki, Raha dan Tidore.
Pelabuhan Saumlaki melayani distrubusi barang hingga 700 ton sepanjang 2019, Pelabuhan Dobo dan Raha hampir menyentuh 400 ton barang dan Tidore 450 ton sepanjang 2019.
Wisnu juga menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan kecil, maksimal hanya dua kapal ukuran besar dan tidak bisa disandari apabila sudah ada kapal perintis dan kapal lain yang sandar.
“Itu jadi pekerjaan rumah kita bagaimana ke depan pelabuhan dikembangkan supaya bisa menampung. Ini kalau makin lama makin tinggi kebutuhan orang sana apalagi ditambah subsidinya kan kalo tidak imbang dengan pelabuhannya pasti akan menjadi macet. Ini menjadi tantangan Kemenhub, tolong dikawal,” katanya.
Selain itu, Wisnu mengatakan pihaknya juga akan menambah frekuensi kapal yang awalnya dua minggu sekali menjadi seminggu sekali.
“Saya katakan arahan Presiden kita harus perbaikan performa manajemen kapalnya, terutama ketepatan waktu, kemudian target pencapaian perjalanannya, kemudian usahakan kalo bisa jangan dua minggu sekali lah, seminggu sekali lah kalau bisa, seperti itu,” ucapnya.
Namun, pihaknya juga ingin menyesuaikan kebutuhan kapal dengan tingkat keterisian barang, yakni okupansi di mana rata-rata untuk berangkat 70 persen, sementara muatan balik hanya tujuh persen.
“Tapi tentu saja kita ingin akurat, artinya jangan sampai udah ditambah kapal ternyata okupansinya masih segitu,” katanya.
Dia menambahkan pihaknya juga tidak akan menambah trayek tol laut di mana saat ini ada 26 trayek dengan 26 kapal, rinciannya swasta dua kapal, pemerintah 15 kapal dan Pelni lima kapal dan ASDP lima kapal. (ant/**)






























