Memasuki penghujung tahun 2024, IPC TPK kembali mencatatkan pertumbuhan arus barang di seluruh area kerja sebesar 280.508 TEUs, meningkat 15,50% dibandingkan periode sama tahun 2023 yang sebesar 242.862 TEUs.
Jadi, terjadi peningkatan bongkar muat petikemas sepanjang Januari-November 2024 sebesar 2.885.249 TEUs, atau meningkat 8,6% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 2.656.646 TEUs.
“Untuk mengantisipasi lonjakan arus barang jelang akhir tahun, kami memastikan kesiapan dari sisi operasional, pengaturan trafik lalu lintas di dalam dan di luar pelabuhan, memantau kondisi cuaca dan serta menjalin komunikasi intensif dengan stakeholder pelabuhan untuk kelancaran proses bongkar muat,” kata Pramestie Wulandary, Corporate secretary & Hubungan Eksternal IPC TPK dalam rilisnya yang diterima Ocean Week, Jumat.
Menurut dia, pertumbuhan arus petikemas tersebut dipicu oleh meningkatnya proporsi petikemas di area Palembang, tumbuhnya muatan ekspor dengan komoditi cassia Vera sebesar 470,59%, gambier sebesar 200%, cocoa 100%, serta komoditi perlite sebesar 550% di wilayah Sumatera Barat dan meningkatnya muatan full load dari jakarta menuju Teluk Bayur sebesar 10,38%.
Kata Pramestie, IPC TPK sebagai salah satu operator terminal petikemas di Indonesia mendorong transformasi serta optimalisasi layanan berbasis Planning & Control.
Pada bulan November 2024, IPC TPK meluncurkan penggunaan TOS Nusantara untuk mendukung layanan bongkar muat petikemas di IPC TPK Area Teluk Bayur.
“Basis dari terminal operating system tersebut menggunakan website yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun guna mempermudah pelayanan baik dari sisi terminal maupun pengguna jasa,” ungkapnya.
Menurut Pramestie, digitalisasi dan transformasi layanan operasional yang dilakukan IPC TPK dapat berdampak kepada penurunan port stay dan cargo stay untuk menekan biaya logistik sekaligus memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan. (***)






























