Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia National Shipowners Association (INSA) ke-58 dirayakan pada hari Senin (11/8/2025), bertempat di Kantor DPP INSA, jl Tanah Abang III, Jakarta Pusat.
Tema yang diangkat pada ulang tahun ke-58 ini adalah “INSA bersatu, maritim berdaulat, Indonesia maju”.
Kegiatan yang dihadiri oleh segenap dewan pengawas, penasihat, para pengurus, dan anggota, berlangsung cukup sederhana, penuh canda, namun tidak mengurangi rasa khidmad acara tersebut.
Pada kesempatan ini, ketua umum DPP INSA, Carmelita Hartoto menyampaikan bahwa INSA boleh dibilang sebagai panutan bagi asosiasi yang lain. Karena usianya yang sudah tua. “Meski begitu kita terus berusaha untuk perfect,” katanya.
Carmelita pun banyak bercerita bagaimana keberhasilan yang telah dicapai oleh INSA selama ini. Salah satunya mengenai azas cabotage yang asing berusaha untuk membuka cabotage. “Makanya, kita harus terus menyuarakan soal cabotage ini, karena ini mengenai kedaulatan RI, ketahanan dari negara ini,” ujarnya.

Jika tak ada kapal-kapal lokal, misalnya terjadi perang, apakah kapal asing mau membantu. “Karena saya terus menerus untuk menyuarakan azas cabotage ini, supaya semua memahami nya,” ungkap Carmelita.
Selain itu, Carmelita pun menceritakan bagaimana beyond cabotage, dan eksistensi pelayaran lokal.
Carmelita mengatakan, 58 tahun INSA bukanlah perjalanan yang singkat. Selama hampir enam dekade INSA telah menjadi wadah perjuangan, pengabdian dan kebersamaan para pelaku pelayaran nasional dalam mendorong industri pelayaran nasional.
“Kita lahir, tumbuh, dan terus berjuang di tengah ombak tantangan yang datang silih berganti, namun kita tetap tegak, karena kita tau pelayaran adalah bagian dari DNA bangsa ini. Untuk itu, di usia yang kian matang dengan deretan prestasi yang telah kita ukirkan, maka saya kira sudah sepatutnya kita kawal organisasi ini agar marwahnya tetap terjaga,” kata Meme (panggilannya).

Dia menyampaikan sebagai negara kepulauan, tak ada persatuan, tak ada konektivitas, tak ada ada ekonomi nasional tanpa pelayaran. “Pelayaran adalah tulang punggung ketahanan multimoda transportasi Indonesia yang menghubungkan logistik, perdagangan, dan mobilitas masyarakat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, demi menjaga kedaulatan bangsa ini.
Pelayaran Sebagai Tulang Punggung
BPS mencatat dalam enam bulan pertama 2025, kapal-kapal nasional telah mengangkut barang sebanyak 157,8 juta ton, atau naik 24% dibandingkan tahun sebelumnya. “Itu menjadi bukti nyata bahwa pelayaran bukan hanya penghubung pulau, tapi juga tulang punggung logistik dan mobilitas bangsa,” jelasnya.
Karena itu, tegas Meme, kedaulatan maritim menjadi harga mati. “Kita harus terus menjaga dan menyuarakan azas cabotage bahwa laut kita harus dilayari oleh kapal kita, diawaki oleh pelaut kita, demi kepentingan bangsa kita sendiri. Azas ini bukan hanya regulasi tapi benteng ekonomi sekaligus simbol kedaulatan negara di jalur laut. Jangan mau laut kita diintervensi dari pihak manapun,” ujar Carmelita.
Meme mengakui jika keberhasilan INSA sampai hari ini tak terlepas dari dukungan dan kerja keras semua pihak baik DPP, DPC dan para anggota di seluruh Indonesia. “Terimakasih telah menghidupkan roda organisasi ini, bukan hanya dengan waktu dan tenaga, tapi juga dengan komitmen dan rasa memiliki,” ungkapnya.
Carmelita mengatakan masih banyak tantangan di masa depan. “Tapi saya percaya dengan bersatu kita akan kuat. Dengan maritim yang berdaulat, kita akan menjaga kepentingan nasional. Dengan itu semua kota akan mendorong Indonesia maju,” ucapnya.
Sementara itu, Harto Khusumo, Dewan Pengawas INSA pada kesempatan itu meminta agar semua anggota bisa rukun, guyub dan bersyukur di kepengurusan sekarang (pimpinan Carmelita Hartoto), karena bisa berhasil.
“Kita mesti bersatu, karena dengan bersatu bisa kuat,” katanya tegas.

Atik (panggilan akrabnya) juga bercerita bagaimana keberhasilan negara China. “Bersatu, dan kebijakannya jelas, tegas,” ungkapnya.
Karena itu, butuh persatuan, dan INSA mesti bisa menjadi yang percontohan.
Di tempat sama Lukman Ladjoni, tokoh pelayaran dari Surabaya mengapresiasi eksistensi INSA yang sudah berusia 58 tahun. “Kita harus terus menjadi kuat, dan pelayaran mesti menjadi yang terdepan,” katanya singkat. (***)





























