Nasib rute pelayaran RoRo Bitung-Davao General Santos yang mangkrak pasca diresmikan Presiden Jokowi dan Presiden Philipina Rodrigo Duterte pada 30 April 2017 lalu, akan diaktifkan kembali.
Informasi tersebut diungkapkan Direktur Lala Perhubungan Laut Capt. Wisnu Handoko, yang juga sebagai pimpinan delegasi Indonesia pada pertemuan ASEAN Maritime Transport Working Group (ASEAN MTWG) Meeting ke 37 di Singapura, yang berlangsung dari Selasa (5/3) hingga Kamis (7/3), baru-baru ini. “Masalah RoRo Davao-Bitung dibahas dalam pertemuan itu, dan kayaknya mau dihidupkan kembali,” katanya.
Menurut dia, RoRo Bitung-Davao/General Santos berdasarkan kesepakatan di BIMP EAGA Strategic Planning Meeting ke-11, Indonesia dan Filipina telah sepakat untuk mengaktifkan kembali jalur RoRo Bitung /General Santos.
Seperti diketahui bahwa jalur kapal Rol On Rol Off (Ro-R) Davao-General Santos Filipina-Bitung Indonesia yang diresmikan oleh Presiden RI Jokowi dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Davao pada 30 April 2017 lalu, sekarang ini mangkrak.
Bahkan bagaimana kejelasan nasib 50 petikemas yang dibawa kapal Super Shuttle Roro 12 di Pelabuhan Bitung dari Davao dan diterima oleh Pemprov Sulut dan Pemkot Bitung waktu itu (Selasa/2/5/2017), belum ada informasi pasti.

Namun kata Capt. Wisnu, dengan menghidupkan kembali team task force, mengkaji alternatif kapal, serta bekerja sama dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) untuk mengeksplore kembali komoditi yang akan diperdagangkan, diharapkan rute ini bisa kembali berjalan.
“Untuk meningkatkan konektivitas dan perkembangan perekonomian melalui implementasi RoRo Bitung-Davao/Gensan, Manado Bitung Link diharapkan dapat selesai pada tahun 2019. Konstruksinya sendiri sampai saat ini telah 40 persen, yaitu sepanjang 15,96 km dari total 39,9 km,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Pertemuan ASEAN MTWG digelar sebagai wadah untuk mengkoordinasikan pengimplementasian hasil dari Pertemuan ASEAN Senior Transport Officials Meeting (STOM) yang bertujuan menjalankan program, proyek, dan kegiatan transportasi laut yang termasuk ke dalam Kuala Lumpur Transport Strategic Plan 2016-2025 (KLTSP).
KLTSP adalah rencana induk strategis 10 tahun pada sektor transportasi ASEAN yang bertujuan untuk meningkatkan integrasi perekonomian regional.
Pada ASEAN MTWG, 10 Negara anggota ASEAN berdiskusi lebih lanjut tentang kerjasama-kerjasama regional yang termasuk di dalam KLTSP, termasuk di antaranya Pilot Project untuk ASEAN Single Shipping Market (ASSM).
Di ASEAN MTWG, Negara-negara Anggota ASEAN akan bekerja sama dengan mitra dialog seperti China, Jepang, dan Republik Korea serta mitra internasional seperti Internasional Maritime Organisation (IMO) tentang masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama untuk meningkatkan konektivitas, efisiensi, keamanan, dan kesinambungan dalam transportasi laut di wilayah ASEAN.
Negara-Negara Anggota ASEAN akan secara bergantian setiap dua tahunan menjadi Tuan Rumah dari Pertemuan ASEAN MTWG. Untuk tahun 2018 dan 2019 Singapura bertindak sebagai Tuan Rumah. (hub/***)






























