Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tidak membatasi jumlah penumpang kapal penumpang dan kapal ro-ro hanya berdasarkan kapasitas sekoci yang tersedia.
“Kebijakan tersebut berpotensi mengganggu konektivitas antarpulau dan menyulitkan masyarakat yang selama ini mengandalkan transportasi laut sebagai moda utama perjalanan,” kata Bambang dalam keterangan persnya di Makassar, Rabu.
Menurut dia, Indonesia adalah negara kepulauan. Transportasi laut menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama masyarakat bawah yang jumlahnya lebih besar dibandingkan masyarakat menengah ke atas.
Bambang Haryo menilai pembatasan berdasarkan kapasitas sekoci dapat menyebabkan kapal tidak dapat mengangkut penumpang sesuai kapasitas sebenarnya.
Bahkan, katanya, jumlah penumpang yang diperbolehkan berlayar berpotensi hanya sekitar 20 persen dari kapasitas kapal karena umumnya kapal hanya memiliki dua sekoci.
Padahal, ungkapnya, kapal penumpang dan kapal feri juga dilengkapi liferaft atau rakit penolong dengan kapasitas yang dapat mendukung keselamatan penumpang ketika terjadi keadaan darurat.
Bambang menjelaskan sekoci bukan satu-satunya perangkat keselamatan yang menentukan keberhasilan penyelamatan korban kecelakaan kapal.
Dalam kondisi kapal miring atau mengalami kerusakan berat, sekoci justru dapat sulit diturunkan karena membutuhkan proses pengoperasian yang relatif rumit.
Bambang mencontohkan kecelakaan KM Senopati Nusantara di perairan Semarang-Karimunjawa. Dua sekoci kapal berhasil diturunkan, tetapi kemudian ditemukan jauh dari lokasi kecelakaan.
Sebaliknya, sejumlah penumpang dapat bertahan dengan menggunakan life jacket dan liferaft hingga memperoleh pertolongan dari kapal yang melintas maupun nelayan.
Dia mengatakan dalam penyelamatan, yang paling penting adalah penggunaan pelampung yang bisa membantu penumpang bertahan hingga 2 x 24 jam, serta alat keselamatan seperti life raft atau perahu karet.
Bambang juga mencontohkan kecelakaan KM Barcelona di Sulawesi Utara. Kapal tersebut, kata dia, tidak memiliki sekoci, tetapi dilengkapi liferaft dan alat keselamatan sesuai kapasitas penumpang. Lebih dari 500 penumpang berhasil selamat setelah menggunakan alat keselamatan dan mendapat pertolongan dari nelayan.
Hal serupa, ucapnya, terlihat dalam kecelakaan kapal feri Putri Yasmin dan KMP Yunicee. Dalam kondisi darurat, nelayan dan kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi turut berperan penting dalam menyelamatkan korban.
Mengutip dari Antara, Bambang meminta pemerintah memperkuat seluruh sistem keselamatan pelayaran, mulai dari ketersediaan life jacket, liferaft, rigid life raft, sekoci hingga kesiapan tim pencarian dan pertolongan.
Dia menilai Basarnas, KPLP, Coast Guard dan Polair perlu memiliki response time yang jelas dan terukur agar korban kecelakaan kapal dapat segera ditolong. (**/ant)






























