Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Sorong memastikan insiden kandasnya kapal tanker MT Niko di perairan Pulau Dua, Kabupaten Tambrauw disebabkan oleh cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda wilayah tersebut.
Kepala Bidang Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli KSOP Kelas I Sorong Ronald di Sorong, Papua Barat Daya, Rabu, mengatakan penjelasan tersebut berdasarkan berita acara yang disampaikan oleh nakhoda kapal.
“Kapal MT Niko berangkat dari Pelabuhan Jayapura pada 28 Januari 2026 dengan tujuan Pelabuhan Tarjun, Kalimantan, membawa muatan Crude Palm Oil (CPO),” kata Ronald.
Dia menjelaskan pada pukul 04.10 WIT kapal MT Niko berpapasan dengan kapal MV Victory di perairan terbuka. Selanjutnya pada pukul 05.25 WIT kapal mengubah haluan dari 270 derajat atau barat menjadi 236 derajat.
“Pada saat itu perwira jaga telah melakukan plot posisi dan kapal dinyatakan masih berada di jalur pelayaran yang aman,” ujarnya.
Namun kondisi berubah pada pukul 05.40 WIT ketika kapal dihantam alun dan gelombang besar dari sisi lambung kanan, sehingga kapal terdorong ke kiri. Upaya pengendalian untuk mengembalikan kapal ke jalur semula tidak berhasil karena pengaruh angin kencang dan gelombang laut yang terus meningkat.
“Pada pukul 05.50 WIT cuaca semakin memburuk. Gelombang dan alun laut yang tinggi menyebabkan kapal larat ke kiri, terdampar, dan akhirnya kandas,” kata Ronald.
Berdasarkan hasil pengukuran awal, kedalaman air di sekitar kapal bervariasi antara 4 hingga 5 meter pada bagian haluan, lambung, dan buritan. Sementara kedalaman perairan di titik kandas diperkirakan sekitar dua meter, dengan kondisi perairan di sisi lainnya masih relatif dalam.
Setelah kapal kandas, kru kapal segera menghentikan mesin dan melakukan pengecekan menyeluruh guna memastikan kondisi kapal serta keselamatan awak.
“Hingga saat ini, tidak terdapat laporan korban jiwa maupun pencemaran laut akibat insiden tersebut,” ungkapnya.
KSOP Kelas I Sorong juga telah mengerahkan dua tugboat untuk melakukan upaya evakuasi. Namun upaya penarikan sebelumnya belum berhasil karena tali penarik sempat putus akibat kondisi cuaca.
“Evakuasi akan kembali diupayakan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan pasang air laut, dan direncanakan dilakukan pada sore hari,” katanya.
Apabila proses evakuasi berhasil, kapal MT Niko akan diarahkan untuk berlabuh sementara di Pelabuhan Wasior guna menjalani pemeriksaan oleh Marine Inspector dan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) untuk memastikan kelaiklautan kapal sebelum ditarik menuju Sorong.
Ronald menambahkan pemeriksaan terhadap awak kapal melalui Berita Acara Pemeriksaan (BAP) akan dilakukan setelah proses evakuasi selesai dan kapal berada dalam kondisi aman.
Dia mengakui terkait informasi dugaan kapal kandas di kawasan terumbu karang atau wilayah konservasi laut adalah ranah Dinas Lingkungan Hidup atau BKSDA.
“Kewenangan tersebut berada pada instansi teknis terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup atau BKSDA,” ujarnya dikutip dari Antara.
KSOP Kelas I Sorong memastikan akan terus melakukan pengawasan, koordinasi lintas instansi, serta pengendalian keselamatan pelayaran, khususnya di tengah kondisi cuaca yang kurang baik di wilayah perairan Papua Barat Daya. (***)





























