PT Pelindo Terminal Petikemas menyebutkan bahwa arus peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang, Jawa Tengah, saat ini didominasi kegiatan ekspor dan impor.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta Teguh Arif Handoko menyatakan bahwa pada bulan Oktober 2026, throughput melalui TPK Semarang meningkat dibandingkan bulan Agustus hingga September yang sempat melandai.
“Tentang depo container di Cipta 3 bulan terakhir lancar dikarenakan akses keluar masuk kawasan Cipta kondisinya kering karena tidak ada hujan,” ujar Teguh saat dihubungi Ocean Week per telpon, Senin.
Sedangkan Ketua DPC INSA Semarang Hari Ratmoko mengungkapkan, kegiatan bongkar muat petikemas di Tanjung Emas relatif lancar aman. “Sekarang memasuki persiapan lonjakan export/import menjelang akhir tahun 2026 dan antisipasi cuaca,” ungkapnya.
General Manager TPKS, I Nyoman Sutrisna kepada Ocean Week menyampaikan jika kegiatan ekspor impor lewat TPKS naik, untuk International naik 9%.
“Kami (TPKS) sudah mengantisipasi adanya lonjakan ekspor impor akhir tahun ini, yakni dengan optimalisasi beberapa CY agar penggunaan lebih optimal,” katanya
Rencananya, ujar Nyoman, akan ada tambahan 4 units RTG, relokasi dari Makassar. “Tahun 2026 ini, kami ditarget throughput mencapai 1.04 juta TEUs, dan optimis tercapai,” ungkapnya.
Menjawab mengenai depo kontainer yang dinilai banyak menghambat kelancaran arus Petikemas, Nyoman menyatakan kalau depo di Semarang belum bisa kerja 24 jam 7 hari.
“Apa itu menjadi kendala belum dievaluasi lebih dalam. Tetapi menurut keterangan depo, mereka sudah melakukan pelayanan 24/7 dengan system on call,” ungkapnya.
Seperti diketahui bahwa TPKS beberapa waktu lalu sudah melakukan penambahan peralatan bongkar muat untuk meningkatkan produktivitas dan keandalan alat, antara lain dengan pengadaan 4 unit QCC dan penambahan 27 unit Head truck dan chasis baru pada awal tahun 2026.
TPKS juga telah melaksanakan Terminal Booking System (TBS) mulai pada tahun 2022, sehingga saat ini merupakan TBS versi yang telah dilakukan berbagai perbaikan dan inovasi. Implementasi Terminal Booking System (TBS) di TPKS dapat menjadi percontohan karena dilakukan melalui pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan.
TPKS tidak hanya membangun sistem, tetapi juga memastikan dapat berjalan di ekosistem pelabuhan meliputi kesiapan proses bisnis, SDM yang menjalankan serta melibatkan partisipasi dari para pengguna jasa.
Berdasarkan data, pada periode Agustus 2025, arus peti kemas internasional di TPK Semarang hanya mencapai 576.246 TEUs.
Untuk komponennya, kata dia, impor sebesar 309.128 TEUs, atau naik 8,14 persen dari 285.862 TEUs, sedangkan ekspor 316.159 TEUs, atau naik 8,88 persen dari 290.380 TEUs.
Sedangkan arus peti kemas domestik atau dalam negeri tercatat hanya 73.011 TEUs atau turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 85.625,5 TEUs.
Teguh mengakui, bahwa infrastruktur logistiknya perlu ditingkatkan untuk mencukupi kebutuhan pengiriman barang yang akan semakin meningkat seiring pertumbuhan investasi dan industri. (**)





























