Ketua DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Bangka, Eko Supriyadi mengungkapkan jika kapal berkegiatan di pelabuhan Pangkal Balam, Propinsi Bangka Belitung, harus menunggu pasang air terlebih dahulu untuk bisa sandar di pelabuhan.
“Kapal harus nunggu air pasang, baru bisa masuk. Karena alur masuk kalau surut hanya sekitar 3 meter,” ujarnya kepada Ocean Week, melalui telepon, Senin (28/9) siang.
Menurut Eko, kapal bisa menunggu sampai 5 hari untuk sandar ke pelabuhan Pangkal Balam. “Tapi kapal-kapal saya nggak ada masalah, dan sudah terbiasa disini,” ungkapnya.
Eko berharap, pengerukan alur pelayaran segera dapat dilakukan. Sebab, jelasnya, jika kondisinya terus seperti ini, bisa berpengaruh pada cost logistik. “Akhirnya pengaruhnya harga barang jadi mahal,” katanya.
Sementara itu, Munif dari Pelayaran Bukit Merapin yang kapalnya melayari rute Tanjung Priok – Pangkal Balam, juga mengaku sekarang terpaksa menggunakan kapal yang ukurannya agak kecil, karena harus menyesuaikan kondisi dan situasi nya. “Lebih parah lagi yang ke Tanjung Pandan, saat ini kapal sulit masuk. Kalau Pangkal Balam masih bisa lah,” katanya saat dihubungi Ocean Week, di Jakarta.
Dia juga berharap, pemerintah segera melakukan pengerukan alur pelayaran dari dan ke pelabuhan Pangkal Balam ini.
“Jangan sampai pelabuhan ini nanti seperti di Bengkulu, akibat dangkal, kapal stop operasional,” ungkapnya. (**)





























