Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (DPP ASDEKI) bergerak cepat merespons keluhan pengguna jasa terkait kemacetan parah yang terjadi di kawasan Cakung, Cilincing, dan Marunda belakangan ini.
Melalui Rapat Khusus virtual yang digelar pada Selasa (30/6) lalu, DPP ASDEKI bersama Pengurus DPW ASDEKI Jakarta dan perwakilan 20 depo anggota mengevaluasi kondisi operasional serta merumuskan langkah-langkah strategis guna mengurai kepadatan lalu lintas di jalur logistik utama tersebut.
Rapat dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP ASDEKI, Surya Dharma Syahputra, serta dihadiri oleh Ketua Umum DPP ASDEKI, Mustofa Kamal Hamka, beserta jajaran pengurus pusat lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, ASDEKI mengungkapkan bahwa akar permasalahan yang terjadi di lapangan dipicu oleh ketidakseimbangan arus logistik global dan keterbatasan ruang.
“Saat ini, mayoritas depo kontainer di Jakarta menghadapi situasi kritis di mana tingkat keterisian lahan (Yard Occupancy Ratio/YOR) telah melonjak di atas 80%, bahkan beberapa di antaranya telah melampaui 100%,” ujar Surya Dharma Syahputra, dalam keterangan nya kepada Ocean Week, kemarin.
Menurut Surya, Kondisi itu disebabkan oleh beberapa faktor krusial, yakni,
* Ketidak seimbangan Ekspor-Impor: Tingginya volume kegiatan impor tidak sebanding dengan aktivitas ekspor, sehingga pengosongan lahan depo menjadi tidak optimal.
* Kurangnya Antisipasi Pelayaran: Perusahaan pelayaran dinilai kurang memperhatikan lonjakan volume kontainer impor ini dan belum menyiapkan langkah antisipasi.
* Dampak Regulasi TBS Pelabuhan: Penerapan Sistem Tarif Berdasarkan Sandar (TBS) di Pelabuhan Tanjung Priok memicu pembatasan kegiatan repo empty out oleh operator pelabuhan demi menjaga YOR di Container Yard (CY) pelabuhan. Kebijakan ini berimbas pada terhambatnya pengeluaran kontainer kosong dari depo.
* Hilangnya Buffer Area :
Akibat lahan penuh oleh kontainer empty impor, depo tidak lagi memiliki ruang antara (buffer area) untuk mengatur manuver truk dan alat angkat didalam depo. Meskipun depo telah beroperasi maksimal 24 jam selama 7 hari, pelayanan tetap terhambat oleh keterbatasan ruang penumpukan tersebut.

Selain faktor internal depo, ungkap Surya, kemacetan di kawasan Cakung-Cilincing dan Marunda juga diperparah oleh faktor eksternal, seperti adanya proyek pembangunan jalan tol di akses Marunda, jadwal kedatangan kapal besar yang bersamaan, serta tingginya kepadatan lokasi antar depo dan pool truk yang saling berdekatan.
Langkah Solutif
Guna mengatasi permasalahan yang berdampak luas pada efisiensi logistik nasional ini, ASDEKI telah merumuskan 5 (lima) langkah solutif dan akan segera berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait:
1. Digitalisasi Pelayanan Depo: Secara internal, depo-depo anggota ASDEKI akan mempercepat peningkatan pelayanan berbasis aplikasi online untuk proses akomodasi D/O (Delivery Order), sistem pembayaran, hingga penyerahan gate pass guna memotong waktu antrean truk.
2. Relaksasi Pembatasan di Pelabuhan: ASDEKI akan segera berkoordinasi dengan PT Pelindo dan KSOP Pelabuhan Utama Tanjung Priok untuk memohon agar kegiatan pas pelabuhan untuk repo empty out tidak dibatasi, sehingga beban YOR di depo dapat segera berkurang.
3. Moratorium Izin Depo Baru: Memohon secara resmi kepada Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Kementerian Perhubungan untuk menyetop (moratorium) penerbitan izin depo baru di area Cakung dan Cilincing yang sudah sangat padat.
4. Mendorong Alternatif Over flow Pelayaran: Berkoordinasi dengan INSA (Indonesia National Shipowners’ Association) dan ISAA (Indonesia Shipping Agencies Association) agar mendesak perusahaan pelayaran aktif memantau kondisi YOR depo dan wajib menyiapkan depo alternatif (overflow).
5. Evaluasi Kebijakan Free Storage : Meminta seluruh anggota ASDEKI meninjau ulang pemberian fasilitas free storage (bebas biaya penumpukan) agar depo di Jakarta tidak dijadikan basis penimbunan stok kontainer kosong (buffer stock empty) oleh pihak tertentu.
Surya juga mengemukakan bahwa Asdeki juga menawarkan solusi jangka menengah.
Sebagai solusi jangka menengah, ASDEKI juga akan melakukan kajian mendalam mengenai urgensi penyediaan Depo Satelit dengan skala lahan yang besar.
Depo satelit ini rencananya akan ditempatkan di lokasi strategis yang berdekatan dengan kawasan industri guna menampung luapan (overflow) kontainer, sekaligus memecah konsentrasi pergerakan truk kontainer agar tidak menumpuk di jalur utama Jakarta.
“Melalui langkah komprehensif ini, ASDEKI berkomitmen penuh untuk terus menjaga kelancaran arus barang dan mendukung terciptanya ekosistem logistik yang sehat, efisien, dan bebas macet,” kata Surya Dharma. (**)






























