Pengguna jasa pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera Barat meminta agar PT Pelindo bisa menambah fasilitas dermaga baru untuk kegiatan kapal, mengingat dengan lalu lintas kapal yang cukup padat di Teluk Bayur, dermaga eksisting tak lagi mencukupi, sehingga kapal harus menunggu sandar hingga berhari-hari.
Hal itu diungkapkan Ketua INSA Sumatera Barat Dodi Andrius dan Ketua APBMI Sumatera Barat HM Tauhid, kepada Ocean Week, di Padang, Rabu pagi (3/9/2025). “Perlu ada penambahan dermaga, terutama untuk kapal-kapal kargo dan curah,,masih kurang, supaya delay kapal tak terlalu lama,” ungkap keduanya.

Menurut mereka, dermaga umum yang biasanya dipakai untuk kegiatan kapal bongkar muat barang ada di dermaga sepanjang 400 meter. Dan kalau masuk kapal besar, hanya dapat disandari dua kapal. “Kalau bisa bangun lagi dermaga di dekat Pasir Gedang, karena lokasinya juga tak jauh dari dermaga eksisting saat ini,” kata Dodi dibenarkan Rifdial Zakir, Ketua ALFI Sumbar.
Sedangkan Tauhid berharap, tambahan dermaga untuk menampung kegiatan kapal bisa pula menggunakan di dermaganya Bukit Asam. “Kan bisa menggunakan dermaga Bukit Asam. Dan itu bisa, tinggal KSOP dan Pelindo ngomong ke PT Bukit Asam,” katanya.

Menanggapi permintaan para pengguna jasa tersebut, PT Pelindo sudah merencanakan untuk menambah atau mengoperasikan diantara dermaga 6 dan 7. “Kami akan juga mengambangkan di wilayah Gaung,” kata Hendri Adolf, Humas Pelindo Teluk Bayur.
Seperti diketahui bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II cabang Teluk Bayur berobsesi mewujudkan target ekspor 3 juta ton minyak kelapa sawit (CPO) setiap tahun melalui pelabuhan ini.
Sebab di tahun 2024, aktivitas CPO di Teluk Bayur sudah mencapai 3,2 juta ton.
Selain itu, ada juga komoditi potensial yang ditangani yakni semen, cangkang, bungkil yang diekspor ke Korea maupun Jepang.
General Manager Pelindo Regional 2 Teluk Bayur Ferial Dunan Sidabutar mengatakan bahwa Teluk Bayur berhasil menorehkan capaian penting dalam upaya meningkatkan efisiensi layanan pelabuhan yakni sistem operasi Pelabuhan non petikemas terintegrasi yang disebut PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose).
“PTOS-M menjadi bagian dari proses transformasi dan standardisasi yang salah satu dampaknya adalah peningkatan kinerja produktivitas Ton/Ship/Day (T/S/D) dan penurunan port stay yang signifikan,” katanya.
Ferial juga mengungkapkan bahwa Pelabuhan Teluk Bayur telah mengadopsi teknologi ramah lingkungan yang salah satunya adalah sistem elektrifikasi alat-alat operasional. “Pelabuhan Teluk Bayur, juga telah menggunakan oil boom dalam setiap kegiatan bongkar muat curah cair untuk meminimalkan risiko kebocoran sehingga mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Hal ini tentunya mampu meningkatkan rasa aman dan kepercayaan pengguna jasa,” jelasnya.
Ferial berharap kinerja di tahun 2025 bisa tumbuh dan berhasil melampaui tahun 2024. (***)






























