Produksi CPO dan turunannya untuk tujuan ekspor keluar negeri melalui pelabuhan umum di Kota Dumai Riau sampai dengan Juni 2018 mencapai 2,1 juta ton. Makanya, PT Pelindo I (Persero) terus mengoptimalkan pelabuhannya sebagai pelabuhan ekspor komoditas kelapa sawit terbesar di Pulau Sumatera tersebut. Oleh karena itu, untuk bisa menyerap potensi ekspor minyak sawit mentah di Riau yang mencapai sekitar 13 juta ton per tahun, perseroan terus melakukan berbagai pengembangan fasilitas.
Pelabuhan Dumai sendiri melayani ekspor CPO hingga enam juta ton per tahun, jauh lebih besar ketimbang Pelabuhan Belawan di Provinsi Sumatera Utara yang melayani sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Bukan hanya Pelindo Dumai saja, namun Perkebunan Nusantara PTPN III (Holding) juga terus menggenjot penjualan ekspor crude palm oil (CPO) dan karet. Direktur Utama PTPN Holding Dolly P. Pulungan mengatakan di tengah menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, kegiatan ekspor ini akan menambah pendapatan perseroan dan membantu pemerintah meningkatkan hasil devisa negara.
“Kami akan terus genjot kegiatan ekspor tahun ini dan tahun depan. Hal ini bisa membantu meningkatkan devisa negara dan untuk menguatkan posisi Indonesia di pasar CPO dunia. Tahun ini perseroan menargetkan ekspor sekitar 300.000 ton, sedangkan pada 2019 bisa mencapai 2,5 juta ton,” katanya saat jumpa pers pada Sabtu (22/9).
Dolly menyatakan, sangat disayangkan bila PTPN tidak memperlebar volume ekspornya, karena komoditas ini merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia.
Sementara itu, di Pelabuhan Dumai, Riau, Direktur Pemasaran PTPN Holding Kadek K. Laksana melepas pengapalan ekspor CPO menggunakan kapal MT Sea Star ke India sebanyak 13.000 ton dengan nilai US$6,85 juta.
Kadek menjelaskan ekspor CPO ini berasal dari PTPN III sebanyak 8.500 ton dan PTPN V 4.500 ton. Gencarnya ekspor CPO, menurutnya, untuk memperkuat struktur bisnis perusahaan serta membantu pemerintah untuk meningkatkan penerimaan devisa.
Dia mengungkapkan realisasi ekspor CPO hingga September 2018 mencapai 150.000 ton atau melonjak 438% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.
Selain ekspor CPO, menurut Kadek, PTPN Holding melakukan peningkatan ekspor untuk produk turunan kelapa sawit seperti palm kernel oil (PKO) dan palm kernel meal (PKM) dengan membuka pasar-pasar baru seperti negara-negara Eropa dan Korea Selatan.
Selain itu, Kadek mengungkapkan pada hari yang sama perseroan juga melepas pengapalan ekspor karet menggunakan kapal MSC Pylos HE838R ke Rusia sebanyak 897 ton dengan nilai ekspor US$1,3 juta melalui Pelabuhan Belawan, Sumatra Utara, sebanyak 49 kontainer. Proses stuffing dimulai pada 13 September sampai 23 September.
Dia menambahkan untuk karet, target ekspor tahun ini 76.000 ton atau meningkat 21% dari realisasi tahun lalu.
Kadek menambahkan total ekspor PTPN Holding untuk seluruh komoditas yakni sawit, karet, teh, kopi, dan lain-lain pada tahun ini diperkirakan sebesar 411.000 ton dan diharapkan bisa menghasilkan devisa US$376 juta atau naik 100% dari realisasi hasil penjualan ekspor 2017.
Sementara itu, Senior Executive Vice President Koordinator PTPN III Suhendri mengungkapkan PTPN III (stand alone) menargetkan penjualan ekspor CPO sampai dengan akhir tahun ini mencapai 93.000 ton dengan perolehan nilai ekspor US$46 juta atau meningkat dari tahun lalu 3.274%, sedangkan penjualan ekspor karet 22.250 ton dengan nilai ekspor US$33 juta atau naik 3,91%. (****)






























