Pemerintah Kabupaten Kendal berharap pada pertengahan 2018 mendatang, pelabuhan niaga Kendal sudah dapat dioperasikan pasca ditekennya kerjasama dengan PT Pelindo III beberapa waktu lalu.
“Kedalaman pelabuhan niaga Kendal, saat ini baru 3 meter. Untuk itu masih perlu dikeruk hingga kedalaman minimal 5 meter. Sehingga kapal bisa bersandar,” kata Sekda Kabupaten Kendal M Toha, kepada pers, di Kendal.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kendal, Suharjo, mengatakan pemerintah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, meminta kepada pemerintah pusat agar menghibahkan aset milik pemerintah pusat di pelabuhan Kendal yang meliputi pelabuhan laut, senilai sekitar Rp 97 miliar dan daràt Rp 234 miliar.
“Kalau aset milik pemerintah pusat dihibahkan ke Pemerintah Kabupaten Kendal, aset milik Kendal bertambah,” tutur Suharjo.
Menurut Suharjo, pengelolaan pelabuhan Kendal, dilakukan melalui skema kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Kendal, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Pusat, dan Pelindo III. Pembagian hasilnya, berdasarkan aset yang dimiliki di pelabuhan Kendal tersebut.
Suharjo mengemukakan, pembangunan pelabuhan Kendal hingga kini sudah menghabiskan dana sebesar Rp 537.817.610.000. Dana tersebut berasal dari APBD Kendal Rp 165.831.287.000, APBD Provinsi Rp 40.134.911.000, APBN Darat Rp 234.040.377.000, dan APBN Laut Rp 97.811.035.000.
Pelabuhan Batang
Sementara itu, Pelabuhan Niaga Batang, Jawa Tengah, sudah siap diujicoba pekan depan. Rencananya, tanggal 27 Januari 2018, kapal pengangkut matrial milik PT Waskita Karya akan membongkar muatan pasir di pelabuhan ini, guna pembangunan jalan tol.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Batang, Kapten Hendrik Kurnia Adi mengatakan pelabuhan yang dibangun di atas tanah seluas 6 hektar itu sesuai rencana akan dioperasikan April 2018 mendatang.
“Pelabuhan niaga sudah siap uji coba, namun karena kendala cuaca gelombang tinggi sehingga kapal-kapal dari Pontianak bermuatan pasir pesanan dari PT Waskita belum berani berlabuh. Tapi kalau cuaca memungkinkan kapal akan merapat ke Pelabuhan Niaga Batang,” ujarnya.
Kedalaman perairan disekitar pelabuhan akan disesuaikan dengan kedalam 5,9 meter, dan akan memiliki dua dermaga untuk menampung kapal tongkang dengan kapasitas maksimal 300 ft.
“Pelabuhan dikhususkan untuk kapal-kapal curah dan barang umum, namun untuk sementara belum direkomendasikan sebagai pelabuhan untuk komuditas bahan pokok,” ungkapnya.
Hendrik juga menambahkan pelabuhan niaga tersebut berdekatan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sehingga pihaknya akan membagi wilayah kerja operasional pelabuhan.
Pihaknya terkendala akses jalan penghubung ke pelabuhan karena akses jalan yang direncanakan melalui pantai Si Cepit Kelurahan Kesepuhan menuju Jalan Ki Mangonsarkoro belum dikerjakan, karena jalan tersebut menjadi kewenangan Pemkab dan Pemprov.
Nantinya supaya operasional pelabuhan tidak mengganggu aktifitas nelayan dan masyarakat sekitar, pihak pelabuhan akan menerapkan jam Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Karena aktifitas nelayan mulai pukul 05.00 WIB samapi 10.00 WiB maka kami mulai operasional pelabuhan pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB,” ucapnya. (kp/tbn/**)



























