BP Batam berniat memperpanjang dermaga utara pelabuhan Batuampar sepanjang 350 meter. Saat ini dermaga utara itu hanya disandari kapal milik negara. Namun, untuk memperpanjang dermaga, BP Batam akan membicarakannya lebih dulu dengan Singapura dan pemerintah pusat, karena ketika memulai proses pembangunan, akan melewati pipa energi yang mengarah ke Singapura.
Beberapa waktu lalu juga ada gagasan untuk menjadikan Batam sebagai transshipment port dimasa mendatang. Karena itu, BP Batam terus berupaya menggenjot perkembangan pelabuhan Batuampar maupun Tanjung Sauh.
Niatnya sama seperti yang digadang-dagang Pelindo II untuk menjadikan Tanjung Priok sebagai transshipment. Jadi pengiriman barang (container) atau ekspor tak lagi melalui pelabuhan Singapura, tetapi langsung ke Negara tujuan.
Kalau di Tanjung Priok, transshipment port sudah terlaksana, bahkan direct call pun sudah ada, meski masih hanya untuk rute Jakarta-Amerika Serikat, dan Jakarta-Intra Asia. Sebaliknya Batam, dari dulu hingga sekarang hanya dalam wacana saja.
Priok didukung dengan terminal yang sudah memenuhi standar internasional, dan kapal ‘raksasa’ juga sudah mampu dihandle. Pengelola di priok juga tidak berhenti dan puas sampai disini saja, mereka pun berencana membangun lagi pelabuhan NPCT2, lanjutan dari NPCT1 yang sudah berperasi sejak dua tahun terakhir. Tapi, bagaimana dengan Batam?.
Walau begitu, paling tidak, ide transshipment itu dapat mengurangi sebagian pengiriman barang (container) yang selama ini lewat Singapura, bias melalui pelabuhan Indonesia. Dan ini perlu supporting semua pihak.
Untuk mewujudkan dan menjadikan Batuampar sebagai pelabuhan besar, rencana perpanjangan dermaga akan ditender. “Ini sedang dibahas dengan konsultan. Setelah itu baru finalisasi dokumen dan segera dilelang untuk pembangunan dermaga utara,” ucap Kepala Kantor Pelabuhan BP Batam, Nasrul Amri Latif, di pelabuhan Batuampar baru-baru ini.
Meski begitu, bagaimanapun juga niatan bagus itu tak akan tercapai kalau pemerintah juga tidak mensupport. Sebab, pastinya Negara tetangga seperti Singapura, atau Malaysia juga akan berpikir untuk tetap mempertahankan pangsa pasarnya, mereka pasti tak mau kecolongan.
Konon, Singapura justru sudah memikirkan membangun pelabuhan baru yang mampu menghandle kapasitas 65 juta TEUs. Sementara Indonesia, masih berkutat pada wacana, dan selalu diributkan. Seharusnya, pemerintah dan stakeholders terkait komitmen untuk bagaimana mewujudkan konsep tersebut menjadi ‘Nyata’. (***)



























