PT Dharma Lautan Utama (DLU) baru saja merayakan ulang tahun yang ke-50, usia yang tak lagi muda buat sebuah perjalanan usaha kapal penyeberangan di negeri ini.
Tentunya sudah banyak asam garam yang dilakoninya selama ini, susah senang telah pula mereka alami. Dan untuk mengetahui perjalanan DLU, apa dan bagaimana mereka selama ini, reporter Ocean Week (OW) mencoba mewawancarai Khoiri Soetomo (KS), salah satu direksi DLU yang sekaligus Ketua Umum Gapasdap, berikut petikannya.
OW : Apa yang sudah dicapai DLU dalam perjalanan 50 tahun ini?
KS : Alhamdulillah selama 50 tahun, DLU terus berupaya menjadi perusahaan pelayaran nasional yang konsisten melayani konektivitas antar pulau di Indonesia. Dari awal dengan armada yang sangat terbatas, kini DLU berkembang melayani berbagai lintasan strategis nasional baik angkutan laut, penyeberangan, maupun perintis.
DLU juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan pelayaran, pengembangan SDM, serta menjaga kepercayaan masyarakat selama setengah abad perjalanan perusahaan.

OW : Bagaimana suka duka selama 50 tahun itu?
KS : Tentu banyak suka dan duka. Sukanya, kami bisa ikut menjadi bagian dalam menyatukan Indonesia sebagai negara kepulauan melalui pelayanan transportasi laut dan penyeberangan, mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik nasional.
Namun tantangannya juga sangat besar. Industri pelayaran dan penyeberangan menghadapi tekanan yang kompleks mulai cuaca ekstrem, kenaikan harga BBM, kurs dolar yang tinggi, biaya spare part dan logistik yang terus meningkat, hingga tuntutan keselamatan yang semakin tinggi.
Selain itu, keterbatasan jumlah dermaga di banyak lintasan menyebabkan hari operasi kapal menjadi rendah sehingga utilisasi kapal belum optimal. Di beberapa pelabuhan juga masih terdapat alur pelayaran yang dangkal sehingga membutuhkan pengerukan dan perawatan rutin agar keselamatan pelayaran tetap terjaga.
Di sisi lain, tarif angkutan penyeberangan saat ini masih banyak yang berada di bawah HPP, sementara biaya operasional terus meningkat. Tantangan lain yang sangat serius adalah masih adanya kendaraan ODOL dan muatan dangerous goods sesuai aturan IMDG Code yang belum sepenuhnya tertata dengan baik sehingga berpotensi membahayakan keselamatan kapal, penumpang, dan awak kapal.
Namun semua tantangan tersebut menjadi motivasi bagi kami untuk terus bertahan, berbenah, dan meningkatkan kualitas pelayanan serta keselamatan.
OW : Sudah berapa kapal yang dimiliki DLU dan melayani rute mana saja?
KS : Saat ini DLU mengoperasikan sekitar 50 kapal yang melayani berbagai wilayah di Indonesia mulai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT hingga kawasan timur Indonesia.
DLU saat ini melayani lebih dari 30 lintasan angkutan laut, selain lintasan penyeberangan dan perintis.
Beberapa lintasan utama antara lain:
Surabaya–Banjarmasin
Surabaya–Kumai
Surabaya–Sampit
Surabaya–Balikpapan
Surabaya–Lembar
Surabaya–Labuan Bajo
Surabaya–Maumere
Surabaya–Ende
Surabaya–Kupang
Surabaya–Waingapu
Surabaya–Makassar
Surabaya–Donggala
Semarang–Pontianak
Semarang–Ketapang Kalbar
Makassar–Selayar
Makassar–Bau-Bau
Batulicin–Parepare
Balikpapan–Donggala
Lembar–Kupang
Waingapu–Kupang dan berbagai lintasan strategis lainnya di kawasan timur Indonesia.
Selain itu DLU juga melayani lintasan penyeberangan nasional seperti:
Merak–Bakauheni
Ketapang–Gilimanuk
Lembar–Padang Bai
Kayangan–Pototano
Kariangau–Penajam serta beberapa lintasan perintis untuk mendukung konektivitas wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

OW : Apa yang masih perlu ditingkatkan dalam industri usaha kapal penyeberangan?
KS : Yang paling penting adalah peningkatan keselamatan dan infrastruktur pelabuhan. Pertumbuhan kendaraan dan logistik nasional sangat cepat, tetapi kapasitas dermaga dan fasilitas pelabuhan masih terbatas.
Selain itu digitalisasi manifest, penegakan ODOL, modernisasi armada, pengerukan alur pelayaran, peningkatan kualitas SDM, serta sistem keselamatan berbasis teknologi juga perlu terus diperkuat bersama-sama.
Keselamatan tidak bisa dibebankan hanya kepada operator kapal, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh stakeholder.
OW : Harapan DLU khususnya dalam usaha ini dan sebagai Ketum GAPASDAP ke depan?
KS : Harapan kami, industri penyeberangan nasional bisa semakin sehat, aman, dan berkelanjutan. Karena transportasi penyeberangan merupakan tulang punggung konektivitas Indonesia sebagai negara kepulauan.
Kami berharap pemerintah bersama seluruh stakeholder dapat terus memperkuat infrastruktur pelabuhan, mendukung iklim usaha yang sehat, memperhatikan keberlanjutan operator, serta bersama-sama membangun budaya keselamatan yang lebih baik.
Sebagai Ketua Umum GAPASDAP, kami juga berharap asosiasi dapat terus menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah, operator, dan masyarakat demi kemajuan transportasi penyeberangan nasional. (***)





























