Permintaan untuk gas alam cair (LNG) di Asia terus meningkat. Asia sendiri menyumbang 55 persen dari total pertumbuhan permintaan untuk LNG secara global pada tahun 2017 lalu.
China telah menjadi importir LNG terbesar kedua, mengambil alih Korea Selatan dan berada dibawah Jepang. Total permintaan LNG di China tahun lalu melonjak 50 persen, mencapai 38 juta ton.
Seperti dikutip di CNA (Schednet News), kemarin, hal itu didorong oleh faktor, antara lain pertumbuhan yang berkelanjutan dari sektor manufaktur, meningkatnya kebutuhan China akan gas alam. China bakal menjadi importir gas terkemuka pada tahun 2030, dan adanya prediksi bahwa gas akan menjadi sumber energi terbesar dari 2034 kedepannya.
Kenaikan minat dalam gas alam dan LNG, khususnya, bertepatan dengan pelaksanaan mendatang dari Global Sulphur Cap oleh Organisasi Maritim Internasional.
Mulai 1 Januari 2020, berlaku peraturan baru, artinya kapal yang beroperasi di luar daerah kontrol emisi belerang harus menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur tidak melebihi 0,5 persen.
Untuk memenuhi peraturan tersebut, kapal memiliki pilihan untuk pemasangan scrubber yang mengontrol emisi gas dari kapal, menggunakan bahan bakar sulfur rendah, atau mengadopsi LNG sebagai bahan bakar alternatif.
Sejalan dengan peraturan baru ini, diperkirakan bahwa LNG, bersama dengan liquefied petroleum gas (LPG), akan mencapai 32 persen dari total penggunaan energi dalam pengiriman pada tahun 2050. (scn/CNA/***)




























