Sebanyak 21 Stasiun Radio Pantai (SROP) di wilayah kerja Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Perak sudah banyak yang rusak.
Jika pemerintah tak segera memperbaiki, aktivitas Kenavigasian di wilayah ini bisa lumpuh.
SROP merupakan stasiun darat yang bergerak dalam dinas pelayaran, yang berfungsi antara lain untuk Pemberitahuan tentang adanya musibah marabahaya (alerting).
“Saat ini, SROP dan VTS cukup jadi kendala. Ada 21 SROP yang rusak, sehingga fungsinya sudah sangat kurang. Kami sudah laporkan ke direktorat (Ditjen Hubla/navigasi) mengenai hal itu, dan sudah direspon. Tim dari Direktorat Navigasi Hubla sudah survey, dan nanti tahun 2025 akan dikerjakan perbaikannya,” kata Capt Mugen S Sartoto, Kepala Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Perak, kepada Ocean Week, di Surabaya, Kamis (11/1/2024).

Menurut Capt Mugen, kalau kerusakan SROP tak segera diperbaiki dan dikerjakan, bisa mengganggu kinerja navigasi dan kepelabuhanan.
“Namun, fungsi voice nya masih bisa menerima, tetapi fungsi digitalnya mesti harus diperbaiki,” ujarnya lagi.
Kata mantan direktur KPLP itu, aktivitas keluar masuk kapal di pelabuhan Tanjung Perak sekitar 100-an call per hari. “Nah, kalau SROP nya rusak, kan kami terkendala juga,” jelasnya.
Mugen ingin supaya fungsi navigasi dikembalikan ke design awal.
Sementara itu, Direktur Kenavigasian Hubla Capt. Budi Mantoro, M.Si., M.Mar. menyampaikan bahwa kerusakan SROP tersebut sudah terinfo ke pihaknya. “Dan itu sudah dikaji oleh JICA, ini akan dikonsep di remote, sehubungan SDM antara yang pensiun tidak seimbang dengan penerimaan ASN. Dan SROP di daerah 3 TP akan di remote,” ungkapnya.
Kata Budi, SROP di daerah yang berjumlah 258 akan di remote dari 23 VTS. Sebab sudah Global Maritime Distress Safety System (GMDSS) untuk ditarik data.
Mugen menambahkan, suatu ketika ada pihak KNKT menginginkan data dari sebuah peristiwa di Tanjung Perak, tapi karena sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) Bouy yang berada di perairan Tanjung Perak hilang, sampai-sampai tak bisa diketahui. Pasalnya, hasil record yang di dapat dari Vessel Traffic Service (VTS) tidak juga bisa membantu kejelasan posisi kejadiannya.
Makanya, ujar Mugen, sekarang ini pihak Disnav Tanjung Perak fokus dalam menjaga keselamatan aset negara, dan itu harus menjadi prioritas. (**)




























