Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah masuknya virus corona asal Wuhan, China ke Indonesia. Salah satunya, dengan mengeluarkan larangan impor hewan hidup dari China. Meski untuk komoditi diluar hewan hidup, masih dibolehkan, namun tetap saja berdampak pada sektor angkutan laut.
Ketika hal tersebut Ocean Week tanyakan kepada usaha pelayaran, bagaimana dampak dan pengaruhnya adanya virus Corona ini, Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto meyakini bakal berdampak kepada sektor pelayaran.
“Sudah barang tentu adanya virus corona ini diprediksi berdampak pada penurunan arus barang ekspor dan impor terutama ke dan dari china. Namun seberapa turunnya, saya belum ada datanya,” kata Carmelita, Senin (10/2) pagi.
Walaupun pemerintah baru melarang impor daging dari china, akan tetapi Meme (panggilan Carmelita) meyakini bahan atau produk makanan lainnya, akan juga berkurang karena importir khawatir barangnya tidak laku. Sedangkan untuk ekspor kemungkinan kurang berpengaruh.
“Untuk pelayaran nasional, terutama kapal-kapal nasional yang melakukan ekspor ke China, Pemerintah sudah melakukan peringatan-peringatan,” ungkapnya.
Sedangkan kapal-kapal China yang calling ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, penerapan ISPS dilakukan lebih ketat lagi. “Heatbody screening dan pemeriksaan quarantina dilakukan disemua pelabuhan. Bahkan beberapa terminal melarang crew China untuk turun kedarat,” ungkapnya.
Seperti diketahui, larangan impor hewan ini diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus corona dari hewan. Pasalnya, penyebaran virus yang menewaskan ratusan orang di China itu diduga tak hanya melalui manusia saja melainkan juga hewan.
“Terkait Kementerian Perdagangan karena disampaikan metode transmisi penyakit melalui human to human dan wild animal, kebijakan pemerintah melarang impor live animal dari Tiongkok,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
Pemerintah, kata dia, akan mengembalikkan hewan yang saat ini dalam proses pengiriman dari China ke Indonesia. Kebijakan ini hanya berlaku untuk hewan saja, sementara impor barang, produk holtikultura, hingga buah-buahan masih diperbolehkan.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, menutup sementara impor produk ikan dari China untuk mengantisipasi menyebarnya virus Corona ke Indonesia.
Keputusan moratorium impor produk China, menurutnya, wajar untuk kepentingan keamanan warga Indonesia.
Selain itu, pihak kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah membentuk satuan tugas (Satgas) untuk memperkuat pengawasan terhadap izin produk-produk impor dari wilayah asal virus corona. Saat ini ada 10 pintu masuk impor produk ikan.
Sementara itu, ketua umum GINSI Anton Sihombing mengungkapkan, usai pelarangan sejauh ini kegiatan ekspor impor masih berjalan normal, kecuali hewan hidup.
“Hingga saat ini, yang banyak diimpor adalah barang-barang elektronik. Ekspor-impor barang juga masih berjalan kecuali hewan hidup dan pertukaran manusia dari dan ke China,” ujarnya.
Penghentian impor sementara dari China terkait virus corona memberikan kekhawatiran banyak pihak. Spekulasi muncul jika kebijakan ini bisa mendorong kenaikan harga produk di pasar lokal mengingat ketersediaan barang yang berkurang.
Namun Anton melihat harga pasar saat ini masih relatif stabil seperti biasa. Meski, dia berharap pemerintah mengkaji kembali kebijakan impor bahan pangan, seperti holtikultura dan bahan makanan dari daging.
Pemerintah diharapkan dapat membaca situasi dengan kondisi virus corona yang sudah menjalar ke beberapa negara.
“Antara lain yang perlu dicermati adalah barang-barang import hortikultura dan makanan-makanan. Orang juga minta agar bawang putih diambil dari luar China. Kami yakin pemerintah mampu mengatasi hal ini dengan mengambil langkah-langkah kongkrit atau alternatif lain untuk menghindari kerugian-kerugian yang berdampak pada negara,” ungkapnya. (***)




























