PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) mentarget perolehan kontrak baru hingga akhir 2019 senilai Rp600 miliar.
Direktur Pelayaran Tamarin Samudra Leo A. Tangkilisan menjelaskan bahwa kontrak-kontrak tersebut didapat atas pelanggan baru maupun dari kontrak pelanggan lama yang diperpanjang.
“Perseroan menargetkan kenaikan pendapatan perseroan menjadi US$ 19,54 juta pada 2019 dan diharapkan lanjutkan pertumbuhan menjadi US$ 41,02 juta pada 2020. Sedangkan laba konprehensif diharapkan naik menjadi US$ 10 ribu tahun 2019 dan melonjak menjadi US$ 17,75 juta pada 2020,” kata Leo dalam paparan publik, di Jakarta, Kamis (27/6).
Menurut dia, tahun 2018, perseroan membukukan kenaikan pendapatan usaha dari US$ 14,83 juta menjadi US$ 15,26 juta. Namun demikian perseroan masih membukukan rugi komprehensif menjadi US$ 3,82 juta, dibandingkan realisasi 2017 senilai US$ 3,12 juta.
“Peningkatan pendapatan perseroan tahun lalu ditopang atas pertumbuhan pendapatan dari segmen usaha Charter Hire, yang merupakan bisnis utama perseroan. Namun peningkatan beban operasional memicu rugi komprehensif meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Pelayaran Tamarin Samudra memutuskan untuk tidak membagikan dividen atas tahun buku perseroan pada 2018.
“Sesuai dengan laporan audit 2018 perseroan masih membukukan rugi, dengan sangat menyesal kami tidak membagikan dividen,” ungkap Leo Tangkilisan.
Perseroan sebelumnya melaksanakan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:10. Nilai nominal saham TAMU dipecah dari Rp 100 menjadi Rp 10 per saham. Stock split berdampak terhadap peningkatan jumlah saham beredar TAMU menjadi 37,5 miliar unit, dibandingkan sebelumnya 3,75 miliar saham. (***)





























