General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu Capt. Joko, menyampaikan bahwa pengerukan alur pelayaran pelabuhan Baai sudah berjalan beberapa hari terakhir ini (mulai 7/6).
“Pipa sepajang kurang lebih 1000 meter sudah terhubung dan diarahkan ke titik dumping area abrasi, semoga cuaca mendukung terus sehingga proses pembukaan blocking alur pelabuhan pulau Baai berjalan lancar,” ujar Joko saat dikonfirmasi perkembangan pengerukan tersebut melalui WhatsApp nya, Senin pagi.
Joko juga menyatakan, sebagaimana yang disampaikan operator pengerukan nya dari PT Rukindo, jika cuaca mendukung terus, di minggu ke tiga bulan Juni alur sudah terbuka.
“Tim ahli pengerukan menyampaikan setidaknya di minggu ketiga pengerukan sudah berhasil (alur kembali terbuka). Tentunya ini yang perlu kita sampaikan, (terwujud) apabila cuaca kondisi bagus dan kondisi alat baik, pengerukan selalu berjalan mulus, serta tidak ada satu isu kerusakan peralatan apapun,” katanya.
Menurut Joko, pengerukan dengan menggunakan kapal keruk berkapasitas besar CSD Costa Fortuna 3 dan kapal AHT Costa Fortuna 5.
Kedua kapal itu didatangkan oleh PT Pelindo berdasarkan penugasan dari Kementerian Perhubungan.
“Harapan kami kegiatan pengerukan ini bisa lancar dan bisa lebih cepat dari target yang direncanakan,” ungkapnya.
Joko juga menjelaskan pengerukan dilakukan secara bertahap. Target awal adalah mencapai kedalaman 6,5 meter, yang kemudian baru dilanjutkan hingga 12 meter.

Setelah itu, kata dia, kapal-kapal besar nantinya dapat langsung bersandar di pelabuhan tanpa perlu melakukan transhipment (alih muat) seperti kondisi belakangan harus labuh luar di Pelabuhan Pulau Baai.
Belum Maksimal
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bengkulu, Edi Haryanto mengatakan proses pengerukan alur pelabuhan Bengkulu telah dimulai beberapa waktu lalu, nanun dinilai belum menunjukkan hasil maksimal.
Menurut Edi, kapal keruk Cutter Suction Dredger (CSD) Costa Fortune 3 yang ditugaskan melakukan pengerukan tersebut baru mampu mengerjakan sekitar 40 persen dari kapasitas optimalnya. Hal itu terlihat dari semburan material yang keluar dari pipa pembuangan kapal yang masih kecil, serta warna air buangan yang tampak bening, menandakan bahwa material lumpur yang dikeruk belum signifikan.
“Kita lihat langsung di lapangan, kinerja kapal keruk ini belum mencapai potensi penuhnya. Dari semburan pipa pembuangan saja terlihat debitnya kecil dan airnya bening, ini mengindikasikan bahwa pengerukan belum berjalan secara maksimal,” ujar Edi Haryanto saat meninjau langsung Sabtu (7/6), seperti dikutip dari Antara.
Edi menjelaskan, terdapat beberapa faktor teknis yang kemungkinan menjadi penyebab lambannya kinerja kapal keruk tersebut. Pertama, Edi menduga kapal masih dalam tahap uji coba mesin setelah tiba di Bengkulu. Kedua, terdapat kendala pasokan air tawar yang berperan penting dalam sistem pendinginan mesin kapal.
“Dalam proses operasional mesin kapal keruk, air tawar sangat penting sebagai media pendingin. Jika stok air tawar terbatas, maka mesin tidak bisa dipacu maksimal karena bisa menyebabkan overheating,” jelasnya.
Edi menerangkan bahwa sistem pendingin kapal keruk bekerja dengan cara memompa air tawar ke dalam mesin untuk menyerap panas. Setelah itu, air tawar yang telah menyerap panas akan dialirkan ke radiator atau heat exchanger untuk didinginkan kembali sebelum digunakan lagi. Tanpa sirkulasi air tawar yang memadai, mesin kapal tidak dapat bekerja dengan stabil.
Edi juga menyoroti waktu kedatangan kapal CSD Costa Fortune 3 ke Bengkulu, yakni sejak 22 Mei 2025. Namun kapal tersebut baru mulai beroperasi efektif pada 7 Juni 2025, atau sekitar 15 hari sejak tiba. Dia menduga selama masa perjalanan dan masa tunggu tersebut, cadangan air tawar di kapal semakin menipis.
“Waktu tempuh dari Batam ke Bengkulu dan masa tunggu selama hampir dua pekan membuat stok air tawar yang dibawa sejak dari pelabuhan asal sangat mungkin berkurang. Ini harusnya sudah diantisipasi lebih awal,” tambahnya.
Atas kondisi tersebut, Edi Haryanto mendesak PT Pelindo selaku pihak yang bertanggung jawab dalam proyek pengerukan ini agar segera mencari solusi agar operasional kapal keruk dapat berjalan optimal.
“Kami minta kepada PT Pelindo segera mengambil langkah strategis. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah mendatangkan suplai air tawar tambahan atau menyediakan sistem pengisian ulang di darat agar kapal tidak kekurangan air,” tegasnya.
Edi menegaskan bahwa percepatan pengerukan alur pelabuhan merupakan kepentingan bersama demi memperlancar aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Pulau Baai yang selama ini terkendala oleh kedangkalan alur.
“Kalau pengerukan ini lambat, maka dampaknya sangat luas. Aktivitas logistik, distribusi barang, hingga perekonomian daerah akan terganggu. Kita ingin pengerjaan ini segera tuntas sesuai target,” pungkas Edi.
Dewan berharap semua pihak terkait, termasuk manajemen PT Pelindo dan pihak penyedia kapal keruk, dapat berkoordinasi lebih baik ke depan agar tidak ada kendala teknis yang memperlambat proses pengerjaan proyek vital ini. (***/ant)





























