PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II berencana mengembangkan Sungai Lais sebagai pelabuhan curah dengan menyiapkan anggaran sebesar Rp 50 miliar.
Apalagi pelabuhan Sungai Lais selama ini sudah beroperasi untuk kegiatan kapal-kapal curah cair, curah kering dan bac cargo.
“Namun sayang rencana pengembangan Sungai Lais untuk sementara terhenti karena lahan seluas 200 hektar milik Pelindo, 75 hektar diantaranya diakui sebagai tanah milik PT Pertamina,” kata Sabar Hariono Wibowo, manajer Komersial Pelindo Cabang Palembang, di Kantornya, saat menjawab pertanyaan Ocean Week mengenai rencana dikembangkannya Sungai Lais.
Padahal, menurut Sabar, sudah ada yang berminat untuk berinvestasi di Sungai Lais, yakni PT AKR. “Karena ada persoalan disitu, AKR mundur dari Sungai Lais,” ujar Sabar didampingi Heru akrab disapa Lais.
Apalagi akses jalan dari dan ke Sungai Lais rusak. Makanya perlu perkerasan dan perbaikan terhadap jalan dari dan ke pelabuhan Sungai Lais.
Sabar mengungkapkan, bahwa Pelindo juga akan membuat Jetty untuk Sungai Lais, mengingat alur dipinggir dermaga cukup dangkal.
Menurut Sabar, dalam program kedepan, pihaknya juga ingin membangun depo petikemas, gudang, dan sebagainya. “Tapi yang ini masih dalam kajian,” ungkapnya.
Seperti diketahui bahwa arus barang melalui pelabuhan Boom Baru cukup besar. Jika realisasi di tahun 2017 tercatat 3,649,491 ton, maka tahun 2018 naik menjadi 4,691,046 ton.
Tahun 2019 ini hingga April sudah berhasil mencatatkan layanan bongkar muat petikemas sebanyak 1,976,341 ton.
Sedangkan arus kapal menunjukan adanya kenaikan. Jika tahun 2017, tercatat 3,781 unit atau 5,746,816 GT.
Tahun 2018 ada 4,245 unit atau 6,663,720 GT. Untuk tahun 2019 sampai bulan April baru masuk 1.116 unit dan 1.810.863.
Sebelumnya, General Manager (GM) PT Pelindo II cabang Palembang Agus Edi Santoso menyatakan, bahwa pelabuhan Boom Baru yang dioperasikannya selama ini sudah padat dan tak bisa dikembangkan lagi, karena kawasannya terbatas.
Oleh sebab itu, Perseroan berencana membangun Sungai Lais.
Menurut Agus Edi, Sungai Lais saat ini lebih banyak digunakan untuk kapal-kapal pelayaran rakyat yang mengangkut barang antar pulau.
Edi menambahkan, perusahaan yang sudah memanfaatkan pelabuhan Sungai Lais antara lain, PT Dinar Jaya Energy dan PT Petro Arta Indo untuk pengisian high speed diesel (HSD) dan PT Trimitra Palm Niaga untuk tangki minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
“Pada tahun 2019, Pelindo II sudah menyiapkan anggaran Rp 50 miliar untuk pembangunan Sungai Lais, seperti jetty, depo, gudang dan akses jalan menuju pelabuhan sepanjang 1,5 kilomter,” ungkapnya.
Kata Edi, saat ini Sungai Lais memiliki kedalaman kolam pelabuhan sekitar 1-3 meter. “Nantinya kolam pelabuhan akan diperdalam sehingga kapal berkapasitas di atas 2.000 ton bisa bersandar di pelabuhan itu.
“Kami berharap pengembangan Sungai Lais bisa segera dilakukan,” kata Agus Edi. (rs/***)





























