Kemacetan dan kepadatan arus kendaraan di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk perlu diantisipasi dengan berbagai langkah, tidak hanya mengandalkan penambahan kapasitas dermaga.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Kadin Jawa Timur Bidang Perhubungan dan Kemaritiman, Steven Hendry Lesawengen kepada Ocean Week, Kamis sore melalui telepon nya.
Menurut Steven, salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan adalah menghidupkan kembali layanan angkutan peti kemas atau container Surabaya–Benoa–Surabaya untuk mengangkut cargo dari dan menuju Bali.
Steven menilai trayek tersebut memiliki nilai strategis karena dapat menjadi alternatif distribusi logistik Jawa–Bali melalui laut.
“Jangan semua cargo dari Jawa ke Bali dan sebaliknya harus melalui jalur darat. Sebagian cargo, terutama yang menggunakan container, sebenarnya bisa dialihkan melalui laut dari Surabaya ke Benoa,” ujar Steven.
Ketua DPC INSA Surabaya ini menyampaikan, pengoperasian kembali trayek tersebut bukan berarti meniadakan kebutuhan pembangunan atau penambahan dermaga di Ketapang. Penambahan dermaga tetap diperlukan untuk meningkatkan kapasitas penyeberangan. Namun, pada saat yang sama pemerintah dan pelaku usaha perlu mencari cara untuk mengurangi beban kendaraan barang yang masuk ke lintasan Ketapang–Gilimanuk.
“Kalau dermaga ditambah, kapasitas penyeberangan memang meningkat. Tetapi kalau volume truk terus bertambah, dalam jangka panjang persoalan kemacetan bisa kembali terjadi. Karena itu harus ada upaya mengurangi kendaraan yang melintas, salah satunya dengan memindahkan sebagian cargo ke angkutan laut,” katanya.
Trayek Surabaya–Benoa, kata Steven, sebenarnya bukan gagasan baru. “Layanan peti kemas pada rute tersebut pernah dijalankan dan menjadi bagian dari jaringan distribusi logistik Jawa–Bali,” ungkap Steven.
Steven juga menambahkan, pada tahun 1996, PT Meratus Line membuka layanan Surabaya–Benoa pulang-pergi. “Konsepnya sederhana. Cargo dari Surabaya yang selama ini diangkut dengan truk menuju Bali, dikonsolidasikan dalam peti kemas dan dikirim menggunakan kapal container menuju Benoa. Sebaliknya, cargo dari Bali menuju Jawa juga dapat menggunakan jalur yang sama.
Steven menjelaskan, peluang itu semakin relevan karena cargo yang bergerak dari Jawa dan Bali bukan hanya barang domestik, melainkan ada cargo ekspor-impor serta cargo lokal yang selama ini sebagian besar masih mengandalkan angkutan jalan raya.
“Yang kita dorong bukan hanya cargo lokal. Container untuk kegiatan ekspor-impor maupun domestic cargo dari dan ke Bali juga bisa menjadi pasar untuk trayek ini. Kalau volumenya cukup, maka secara ekonomi rute tersebut akan semakin menarik bagi operator,” katanya.
Steven mengungkapkan, pengembangan kembali trayek Surabaya–Benoa harus dibarengi dengan kebijakan yang membuat biaya logistik laut kompetitif dengan angkutan darat.
Pemerintah, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran dan pelaku usaha perlu duduk bersama menghitung kebutuhan volume cargo, frekuensi pelayaran, ukuran kapal, tarif pelabuhan serta biaya handling di Benoa maupun Surabaya.
“Jangan hanya bicara kapalnya. Harus dihitung secara keseluruhan agar biaya logistiknya kompetitif. Kalau tarifnya masuk dan waktu pengirimannya bisa dipastikan, pelaku usaha akan memilih moda yang efisien,” ujarnya.
Steven melihat kebijakan tersebut dapat berjalan bersamaan dengan rencana peningkatan kapasitas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Penambahan dermaga tak serta merta menyelesaikan persoalan kapasitas penyeberangan, sedangkan pengalihan sebagian cargo ke laut menyelesaikan persoalan dari sisi pengurangan beban kendaraan.
“Jadi bukan pilih salah satu. Penambahan dermaga tetap jalan, tetapi moda laut untuk cargo juga harus dihidupkan kembali. Ini pendekatan yang lebih komprehensif,” tegasnya.
Selain mengurangi tekanan pada lintasan Ketapang–Gilimanuk, penguatan angkutan container Surabaya–Benoa juga berpotensi memberikan manfaat lain, seperti mengurangi perjalanan truk jarak jauh, menekan biaya pemeliharaan jalan serta meningkatkan pemanfaatan infrastruktur pelabuhan.
Karena itu, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kemacetan di Ketapang–Gilimanuk, pemerintah dinilai perlu segera melakukan kajian terhadap kemungkinan reaktivasi trayek container Surabaya–Benoa–Surabaya.
“Ini bukan konsep baru. Jalurnya pernah ada. Tinggal kita evaluasi kembali apakah dengan kondisi cargo dan kebutuhan logistik sekarang trayek tersebut bisa dibuat lebih efisien dan kompetitif. Kalau bisa, ini harus dicoba kembali,” ujar Steven. (**)






























