Konsep pelabuhan pintar atau smartport mulai diperkenalkan oleh sejumlah kalangan.
Bahkan, pemerintah cq Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai konsep smartport dapat mendorong efisiensi biaya logistik nasional di samping menjadi kunci sukses menghadapi kenormalan baru.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Arif Toha Tjahjagama dalam diskusi virtual bersama Dirut IPC Arif Suhartono dan stakeholders kepelabuhanan, Jumat ini menyatakan bahwa smartport dilakukan salah satunya untuk integrasi mendukung ekonomi ramah lingkungan.
Untuk itu, ujar Arif, harus ada efisiensi atau saving energi dalam penerapannya.
“Harus ada keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Pengelolaan energi secara menyeluruh di area pelabuhan kita dorong untuk penggunaan listrik yang bersumber pada energi-energi yang bersih, tak lagi menggunakan energi bahan bakar fosil,” ungkapnya.
Implementasi dan integrasi energi terbarukan di pelabuhan harus didorong seperti halnya penggunaan tenaga surya.
“Transportasi kapal bahan bakarnya harus mencerminkan ramah lingkungan. Kapal-kapal sekarang sudah mengikuti konvensi, kapal di kita wajib menggunakan bahan bakar yang rendah sulfur. Itu kita sudah komitmen pada internasional. Ini suatu langkah yang kita lakukan bersama sebagai wujud suatu lingkungan pelabuhan yang bersih,” ungkap mantan Kepala OP Priok itu.
Arif Toha juga menyinggung mengenai masih tingginya biaya logistik nasional yang mencapai 24% dari pendapatan domestik bruto (PDP), jauh dibawah Malaysia yang sudah mencapai 15%.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Dirut IPC Arif Suhartono mengungkapkan kalau Pelindo II tengah menuju konsep smartport, melalui dua indikator utama yakni digitalisasi internal dan eksteral yang berujung pada digitalisasi.
“Digitalisasi internal akan mewujudkan menjadi perusahaan digital, sementara fokus eksternal akan mewujudkan pelanggan digital, kolaborasi keduanya menjadikan aktivitas ini sebagai digital bisnis,” katanya.
Menurut Arif, ada tiga kunci utama yang harus disiapkan agar pelabuhan pintar dapat terwujud, pertama komitmen, kedua manajemen perubahan dan ketiga kolaborasi.
Sedangkan Pakar Informasi Kepelabuhanan Supply Chain Indonesia (SCI) Rudy Sangiaan menyayakan untuk menyambut smarport harus mengurangi atau menghilangkan interaksi antar manusia dalam proses kepelabuhanan.
“Saat ini pengurusan dokumen dan beberapa hal lain sudah dapat dilakukan secara online, meskipun di lapangan, para pengguna jasa pelabuhan masih harus bertemu satu sama lain atau bertatap muka dengan petugas operator pelabuhan atau regulator di lapangan,” ujarnya. (***)






























