Sejak meletus perang antara Amerika Serikat, Israel melawan Iran yang hingga saat ini masih terus berlangsung, akhirnya sangatlah berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.
Dunia usaha di negeri ini mulai terimbas, apalagi untuk sektor transportasi (pelayaran, trucking, penyeberangan, dan sebagai nya).
Harga BBM non subsidi mulai naik, dan hal itu kemudian membuat sejumlah harga barang pun ikutan naik.
Usaha penyeberangan yang tergabung di Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP) mulai berteriak. Konon kondisi industri penyeberangan saat ini berada dalam tekanan yang cukup berat akibat kenaikan biaya operasional dan berbagai dinamika kebijakan di sektor energi dan transportasi.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana industri penyeberangan saat ini, Ocean Week (OW) mewawancarai Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo (KS), berikut petikannya.
OW : Dampak Kenaikan BBM dan Kendala terhadap usaha penyeberangan?
KS : Kenaikan harga BBM non-subsidi serta perubahan sistem distribusi berbasis barcode memberikan dampak nyata di lapangan. Selain menyebabkan kenaikan signifikan biaya operasional kapal, kondisi ini juga berdampak pada pengguna jasa.
OW : Maksudnya ?
KS : Ya, saat ini pengguna jasa kapal penyeberangan terjadi penurunan kendaraan pribadi hingga sekitar 15%, akibat langsung kenaikan BBM non-subsidi. Lalu untuk Kendaraan logistik juga mengalami kendala operasional karena kesulitan memperoleh BBM, sehingga berpotensi mengganggu distribusi barang. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya dirasakan oleh operator saja, tetapi juga oleh masyarakat pengguna jasa.
OW : Tak lama lagi ada libur panjang Idul Adha, bagaimana kesiapan nya?
KS : Dalam rangka menghadapi libur panjang Idul Adha, khususnya di lintasan utama seperti Merak–Bakauheni ferry crossing, seluruh operator telah melakukan berbagai persiapan.
* Kesiapan armada dalam kondisi optimal,
* Koordinasi intensif dengan Kementerian Perhubungan, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), KSOP, dan aparat terkait,
* Penyesuaian pola operasi untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Namun demikian, GAPASDAP kembali menegaskan bahwa tantangan utama tetap pada keterbatasan dan kualitas dermaga, bukan pada jumlah kapal.
OW : Apakah akan ada Penyesuaian Tarif?
KS : GAPASDAP memandang bahwa penyesuaian tarif sudah sangat mendesak, mengingat:
* Tarif saat ini masih berada di bawah biaya pokok produksi (HPP) sekitar 31,8%
* Terjadi kenaikan signifikan pada komponen biaya seperti BBM, kurs, spare part, dan logistik,
OW : Bagaimana Kondisi Industri Saat Ini?
KS : Secara umum, industri penyeberangan saat ini menghadapi:
* Over supply kapal di banyak lintasan
* Keterbatasan infrastruktur pelabuhan
* Tingkat utilisasi kapal yang rendah
* Persaingan usaha yang semakin tidak sehat
Hal ini menyebabkan banyak operator berada dalam kondisi tekanan finansial yang serius, meskipun tetap berkomitmen menjaga layanan kepada masyarakat.
OW : Harapan dan Rekomendasi GAPASDAP?
KS : Untuk menjaga keberlanjutan industri, GAPASDAP menyampaikan beberapa harapan, yakni;
* Percepatan pembangunan dan modernisasi dermaga,
* Penataan jumlah kapal pada lintasan yang sudah jenuh,
* Penyesuaian tarif yang realistis dan berkeadilan,
* Penegakan aturan ODOL untuk keselamatan pelayaran,
* Fleksibilitas kebijakan operasional pada periode peak season.
Dan GAPASDAP menegaskan bahwa industri penyeberangan adalah tulang punggung konektivitas nasional, sehingga memerlukan perhatian serius dan kebijakan yang tepat agar tetap mampu melayani masyarakat secara aman, andal, dan berkelanjutan. (ridsaid@yahoo.com)





























