Kapal berbendera asing berbobot 35 ribu DWT (Death weight tonage) mulai ramai masuk Pelabuhan Pulau Baai-Bengkulu, pasca alur pelayaran di pintu masuk pelabuhan mencapai kedalaman 10 meter Lws (Lower Water Spring) pada 3 Oktober 2018 lalu.
“Sebelum dilakukan pengerukan kedalaman alur pelayaran hanya mencapai 5 M LWS, sehingga hanya mampu melayani tongkang (barge) 9000 Ton, kapal 35 Dwt tak bisa masuk,” kata Hambar Wiyadi, GM Pelindo Bengkulu dalam keterangannya yang dikirimkan ke Ocean Week, Selasa sore (9/10).
Hambar berharap, dengan kedalaman alur pelayaran seperti sekarang ini, akan mampu meningkatkan komoditas utama Provonsi Bengkulu seperti Batubara, Cangkang, klinker/semen dan Crumb Rubber menjadi andalan ekspor ke beberapa negara di Kawasan Asia, China, India dan Amerika.
Mantan GM Pelindo Pangkal Balam ini, mengungkapkan sudah ada tambahan 2 unit dermaga untuk kegiatan bongkar muat batu bara, yakni Dermaga Jetty A dan Dermaga Eks Bukit Sunur dengan total investasi mencapai Rp. 24 milyar.
Untuk Jetty A telah diselesaikan 100%, dilengkapi dengan fasilitas pendukungnya berupa conveyor dengan kapasitas 1.500 ton/jam. Dermaga Eks Bukit Sunur sedang dilaksanakan pembangunan berupa dermaga floating rampdoor yang nantinya digunakan untuk melayani kapal jenis tongkang dengan kapasitas 10.000 ton serta didukung dengan fasilitas lapangan dan peralatan bongkar muat berupa 1 unit excavator dan 1 unit whell loader dengan nilai total investasi mencapai Rp. 6,5 milyar.
Menurut Hambar, jika 2 dermaga pada terminal curah kering sudah dioperasikan, maka akan meningkatkan pendapatan dan nilai aset kepada perusahaan, dan pada gilirannya akan memberikan peningkatan deviden kepada pemerintah.
Hambar yakin dampak langsung dari pembangunan terminal ini, pertama, peningkatan kapasitas daya tampung kapal dengan kapasitas bongkar muat curah kering dari 2,4 juta ton menjadi 3,5 juta ton serta dapat melayani kapal besar (Mother Vessel) serta kapal jenis tongkang.
Kedua, tersedianya dedicated terminal untuk barang curah kering, sesuai dengan jenis barang yang dibongkar dan muat di terminal tersebut. Ketiga, mampu melayani kapal-kapal diatas 35 ribu ton dengan peningkatkan produktivitas terminal, tentunya terminal ini akan menjadi “Port of Choice” (pelabuhan pilihan) bagi kapal liner internasional dan regional yang pada akhirnya terminal akan menjadi HUB PORT di pantai barat Indonesia.
Keempat, membantu menurunkan biaya logistic cost dengan tersedianya terminal yang didukung dengan peralatan dan produkvitas tinggi. disertai dengan service pelayanan yang baik. Tentunya ini memberikan kontribusi pada efisiensi biaya transportasi yang ditanggung oleh pelanggan /pemilik barang/cargo owner yang pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian nasional.
“Terakhir, peningkatan aktivitas dan operasional pelabuhan yang diimbangi dengan produktivitas dan standar pelayanan yang baik, akan berdampak pada peningkatan penghematan biaya operasional kepelabuhanan dan penghematan nilai waktu (Value of Time),” kata Hambar Wiyadi. (pld2/**)






























