Pertumbumbuhan ekonomi triwulan I 2020 di banyak negara menurun tajam sejalan meluasnya pandemi COVID-19 dan disertai berbagai upaya pembatasan
aktivitas masyarakat. Dengan proyeksi kontraksi hingga triwulan III 2020, ekonomi global diprakirakan tumbuh negatif 2,2% (yoy).
Perlambatan ekonomi global juga menurunkan permintaan barang-barang ekspor dan impor sehinga volume perdagangan menurun.
Pada triwulan I 2020, volume perdagangan dunia terkontraksi 2,5% (yoy), dipengaruhi dampak COVID-19 yang dominan di Tiongkok pada Februari dan dampak penyebaran di negara lain pada Maret 2020. Hal ini berdampak pada penurunan harga komoditas.

Pandemi COVID-19 juga memicu naiknya ketidakpastian pasar keuangan global pada triwulan I 2020 dan mendorong pembalikan arus modal ke aset
keuangan yang dianggap aman. Ketidakpastian tersebut mulai mereda pada April 2020 didukung sentiment positif atas berbagai respons kebijakan
yang ditempuh di banyak negara.
Akibat pengaruh dari perekonomian global, pertumbuhan perekonomian nasional diprakirakan menurun.
Namun pertumbuhan perekonomian nasional kembali tercatat meningkat 2,97% pada (yoy 2021).
Perlambatan itu terutama berasal dari melambatnya sektor jasa, khususnya pariwisata, konsumsi nonmakanan, dan investasi, dengan Lapangan Usaha
(LU) yang paling terdampak yakni LU perdagangan, hotel dan restoran, LU industri pengolahan, LU konstruksi, dan sub LU transportasi.
Sementara itu, kinerja LU yang terkait dengan penanganan pandemi COVID-19 tetap baik, seperti LU informasi dan komunikasi, jasa keuangan, jasa kesehatan dan jasa lainnya.

Lalu bagaimana dengan propinsi Lampung. Menurut Budiharto Setyawan, Kepala Perwakilan Bun BI Provinsi Lampung, bahwa perekonomian Lampung tumbuh 1,73% (yoy) pada triwulan I 2020, jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya (5,07%;yoy) maupun periode yang sama tahun 2019 (5,18%;yoy). “Kinerja perekonomian yang memburuk ini disebabkan oleh perlambatan konsumsi RT dan kinerja negatif sektor eksternal. Dari sisi sektoral, perlambatan disebabkan oleh penurunan kinerja di hampir semua Lapangan Usaha (LU),” katanya dalam acara Halal bi Halal yang diselenggarakan IPC Panjang bersama stakeholders kemaritiman Lampung, secara virtual pada Selasa, bertempat di Lampung.
Turut serta dalam acara tersebut antara lain Arvan Pradiansyah (Motivator Nasional Leadership & Happiness), Budiharto Setyawan (Kepala Perwakila Bun BI Provinsi Lampung), Andi Hartono (KSOP), Kepala Imigrasi Lampung, Muhammad Jumadh (Kepala Balai Karantina Pertanian), Esti Wulandari (KKP Bea Cukai), Letkol Marinir Amrul Ardiansyah SE MM (DANLANAL), Kombes Pol Sis Mulyono S.H (DIRPOLAIR), Yusman Jaya, SIK (DIRPAMPOBVIT), IPTU Anne Rose A.p, S.I. K (KSKP Panjang), dan Jumaril (Badan SAR Lampung).
Budiharto memperkirakan ekspor provinsi Lampung pada 2020 bakal menurun akibat melambatnya permintaan dunia, juga terganggunya rantai penawaran global, serta rendahnya harga 19 komoditas global. Di sisi domestik, permintaan yang diprakirakan melemah mendorong penurunan ekspor antar daerah.
Begitu pula dengan impor, pada tahun 2020 diprakirakan mengalami kontraksi. Hal itu disebabkan oleh turunnya permintaan domestik dan ekspor, serta adanya gangguan pada rantai pasokan akibat COVID-19 yang meluas dengan cepat.
Karena itu, kelancaran impor perlu dijaga mengingat andil impor yang besar terhadap PDRB Lampung. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang besar terhadap impor, khususnya industri pengolahan.
Berdasarkan kelompoknya, impor terbesar Lampung didominasi oleh impor bahan baku penolong (90,15% dari total impor triwulan I 2020).

Budiharto mengungkapkan, sejalan dengan kinerja pertumbuhan konsumsi domestik dan ekspor yang menurun, LU perdagangan pada triwulan II 2020 dan keseluruhan tahun 2020 diprakirakan terkontraksi.
“Kontraksi LU perdagangan ini sejalan dengan penyaluran kredit perbankan yang tercatat tumbuh melambat sebesar 0,62% (yoy) pada triwulan I 2020 dan -1,96% (yoy) pada posisi April 2020, jauh lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2019 (4,07%; yoy) maupun triwulan yang sama tahun lalu (7,49%; yoy), hal mana mengindikasikan adanya penurunan alokasi kredit oleh perbankan ke lapangan usaha ini,” ungkapnya.
Namun demikian, kontraksi yang terjadi diperkirakan dapat tertahan oleh pertumbuhan konsumsi domestik yang secara perlahan membaik pada triwulan III 2020 dan persiapan pelaksanaan Pilkada serentak pada Desember 2020.
Budiharto menyebut bahwa dalam upaya menjaga stabilitas inflasi, beberapa langkah pengendalian inflasi yang dapat dilakukan, yakni memastikan keterjangkauan harga, lalu melakukan pemantauan harga harian dan perbandingan harga dengan daerah lain untuk melihat perkembangan harga yang terjadi dan melakukan intervensi kebijakan yang diperlukan.
Selain itu, perlu dilakukan upaya penyerapan komoditas agar harga tidak turun lebih dalam oleh industri pengolah makanan dan penyerapan oleh ASN. Di sisi lain, surplus pasokan dapat diolah menjadi produk turunan dengan memberdayakan KWT disertai dukungan pembiayaan dan pemasaran oleh Pemerintah Daerah atau Dinas Koperasi dan UMKM.
“Memastikan ketersediaan pasokan, melakukan pendataan yang akurat oleh TPID dan Satgas Pangan terkait jumlah persediaan komoditas strategis dan
meningkatkan intensitas koordinasi antar TPID Provinsi/Kabupaten/Kota melalui KAD dalam hal pemenuhan komoditas pangan strategis menghadapi risiko
kenaikan harga. Selain itu, perlu dilakukan pengawalan dalam pemberian bansos bagi kelompok masyarakat yang rentan terdampak COVID-19, tidak hanya dari sisi daftar penerima bantuan melainkan juga mekanisme penyaluran dan ketersediaan pasokan komoditasnya agar tidak mendorong kenaikan harga.
memastikan kelancaran distribusi, koordinasi TPID dan Satgas Pangan dalam memastikan kecukupan pasokan dan kelancaran akses distribusi bahan pokok di tengah pembatasan akses di sejumlah wilayah,” katanya panjang lebar.
Kemudian meningkatkan komunikasi efektif terkait ketersediaan pasokan, rencana pemenuhan pasokan, dan himbauan untuk berbelanja secara bijak yang perlu disampaikan oleh Pemerintah Daerah untuk menjaga ekspektasi positif bagi masyarakat dan menjaga stabilitas harga.

Sementara itu, Drajat Sulistyo (GM Pelindo II Cabang Panjang) mengatakan sebagai operator pelabuhan, pihaknya akan terus mendukung pertumbuhan perekonomian provinsi Lampung.
“Pelabuhan selalu siap memberikan yang terbaik untuk kegiatan ekspor impor. Baik pada saat normal maupun sekarang ini si masa pandemi Corona. Berbagai sarana prasaran sudah pula kami siapkan, untuk mendukung kelancaran lalu lintas kapal dan barang,” katanya.
Dia berharap, wabah Corona ini dapat segera berakhir dan semua kembali berjalan normal.
“Kami juga sudah siap menghadapi new normal. Layanan kami siapkan berbasis digital online. Jadi pengguna jasa bisa memanfaatkan teknologi digital yang sudah kami siapkan, misalnya layanan kapal, urusan dokumen dan sebagainya,” ungkap Drajat. (***)




























