Tiga tahun berjalan sejak diluncurkan program tol laut tahun 2015 lalu, masih banyak yang perlu disempurnakan. Sudahkah tol laut benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, benarkah dengan tol laut harga kebutuhan pokok (barang) juga tak lagi mahal, dan sudahkah tak ada lagi disparitas harga antara barang di pulau Jawa dengan wilayah Indonesia lainnya.
Pertanyaan seperti itulah yang sering mengemuka, karena jika suara datang dari pemerintah, pasti selalu positif, bahkan pemerintah mengklaim tol laut sudah berhasil menurunkan cost logistik. Sebaliknya, kalau statement datang dari kalangan masyarakat, komentarnya beragam. Ada yang bilang sudah baik, tapi ada pula yang menyatakan masih saja sama, harga tidak juga turun.
Karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi program tol laut. Sebab, jangan sampai niat baik dari pemerintahan Jokowi yang berharap agar tak terjadi kesenjangan harga komoditi 9 bahan pokok ini justru tak banyak memberi manfaat bagi masyarakat di pelosok tanah air, khususya mereka yang tinggal di pinggiran daerah Indonesia bagian Timur.
Ratusan miliar rupiah yang dikucurkan pemerintah untuk menunjang suksesnya program tol laut ini, hanya dinikmati oleh para oknum tengkulak (pedagang) bukan rakyat, maupun pengusaha transportasi laut.
Padahal, pemerintah di tahun 2018, sudah merencanakan menambah rute tol laut dari 13 trayek menjadi 18 rute. Anggaran subsidi yang konon akan diguyurkan untuk tol laut mencapai Rp 447 miliar. Tidak hanya itu, untuk menunjang kelancaran tol laut, pemerintah (Kemenhub) membangun kapal perintis untuk container kapasitas 100 TEUs sebanyak 15 unit.
Ketika tol laut ditanyakan kepada Witono Suprapto, Wakil Katua Umum 1 DPP INSA, membenarkan kalau di 2018, Kemenhub akan menambah rute tol laut dengan melibatkan swasta melalui sistem lelang.
“Namun karena beberapa rute menggunakan armada swasta dengan mekamisme hub spoke, maka diperlukan payung hukum untuk subsidi kontainer. Karena belum selesai payung hukumnya, maka untuk sementara tol laut jalan dulu dengan penugasan,” ungkap Witono, Kamis pagi (18/1).
DPP INSA, tambahnya, selalu melakukan koordinasi dengan regulator (Kemenhub) untuk terus bersinergi pada program tol laut ini.
Meski begitu, rencana baik pemerintah kedepan boleh-boleh saja, tapi evaluasi terhadap program tol laut yang sudah berjalan juga sangat penting. Misalnya, bagaimana kelangsungan kontrak terhadap rute-rute tol laut itu. Sebab, masyarakat di beberapa wilayah sempat berteriak, kapal tol laut tak lagi masuk.
Kapal Motor (KM) El no. 3 misalnya, selama ini melayari Sebatik dan Nunukan mengangkut komoditi kebutuhan masyarakat disitu tak lagi beroperasi atau masuk lagi terhitung sejak awal Januari 2018, sehingga perdagangan masyarakat yang biasanya mengirim dan menganbil barang dari Surabaya-Sebatik atau sebaliknya terhenti. Mereka harus mengambil alternative menggunakan moda transportasi kapal non tol laut, dan itu biayanya jauh lebih mahal.
Kepala Bidang Dalam Negeri Dinas Perdagangan Nunukan, Hasan Basri berujar, bahwa kapal tol laut tak lagi beroperasi untuk saat ini. Sebab sesuai kontrak kerjasama dengan Kemenhub RI, masa berlayar kapal hanya sampai Desember 2017. Sementara kontrak di 2018 belum diketahui kapan dimulai kembali kapal tol laut itu dapat berlayar. Hal itu pula yang pernah terjadi pada kapal tol laut pengangkut sapi dari NTT.
Ada lagi kapal tol laut yang sejak Juli 2017 masuk ke pelabuhan Murhum Bau-bau, Sulawesi Tenggara tak akan masuk pada 2018 ini. Kapal tol laut yang selama ini ditangani pelayaran Teman Line itu, infonya hanya akan masuk ke Wanci Kabupaten Wakatobi.
Kapal tol laut ke Bau-bau itu masuk pada trayek R6 melintasi Surabaya-Bau-bau-Manokwari (PP). Jadi kalau toh kapal Temas Line masih masuk kesana, itu bukan lagi program tol laut, melainkan murni bisnis.
Masalah-masalah seperti itulah yang penting diperhatikan pemerintah (Kemenhub), mengingat masuknya kapal tol laut ke wilayah pelosok tanah air sudah menjadi kebutuhan dan memberi manfaat bagi masyarakat di berbagai wilayah tersebut.
Selama ini isyu yang terus bergulir kurang berminatnya swasta ikut dalam program tol laut, karena tidak seimbangnya angkutan balik. Tol laut itupun akhirnya banyak mengandalkan PT Pelni karena penugasan, sehingga mau nggak mau harus melaksanakan.
Malah, kata Harry Boediarto, Direktur Angkutan Barang dan Logistik PT Pelni, perseroan membeli 6 kapal lagi untuk melayani trayek tol laut tersebut, dengan anggaran ratusan miliar rupiah yang mesti dikeluarkan dari sumber dana PMN (penyertaan modal Negara).
Untuk diketahui bahwa Pelni mendapat penugasan tol laut ke rute T-3, T-5, T-6, T-9, T-11, T-12, dan T-13, selebihnya dilaksanakan oleh perusahaan pelayaran swasta.
Kita semua perlu mengingatkan, sebelum pemerintah (Kemenub) menggulirkan penambahan trayek baru di 2018 ini, sebaiknya semua problem yang menyangkut program tol laut diselesaikan terlebih dulu, sehingga anggaran ratusan miliar rupiah sebagai dana subsidi tidak sia-sia, dan masyarakat benar-benar memperoleh manfaat dari program ini.
Berikut rute tol laut utama 2018:
1. T1: Teluk Bayur – P. Nias (Gunung Sitoli) – Mentawai (Sikakap) – P. Enggano – Teluk Bayur
2. T2: Tanjung Priok – Tanjung Batu – Blinyu – Tarempa – Natuna (Selat Lampa) – Tanjung Priok
3. T3: Tanjung Perak – Belang-belang – Sangatta – Nunukan – Pulau Sebatik (Sungai Nyamuk) – Tanjung Perak
4. T4: Tanjung Perak – Makassar – Tahuna – Tanjung Perak
5. T5: Tahuna – Kahakitang – Buhias – Tagulandang – Biaro – Lirung – Melangoane – Kakorotan – Miangas – Marore – Tahuna
6. T6: Tobelo – Maba – P. Gebe – Obi – Sanana – Tobelo
7. T7: Tanjung Perak – Tidore – Morotai – Tanjung Perak
8. T8: Tanjung Perak – Wanci – Namlea – Tanjung Perak
9. T9: Biak – Oransbari – Waren – Sarmi – Biak
10. T10: Tanjung Perak – Nabire – Serui – Wasior – Tanjung Perak
11. T11: Tanjung Perak – Fakfak – Kaimana – Tanjung Perak
12. T12: Tanjung Perak – Timika – Agats – Merauke – Tanjung Perak
13. T13: Tanjung Perak – Saumlaki – Dobo – Tanjung Perak
14. T14: Tanjung Perak – Kalabahi – Moa – Rote (Ba’a) – Sabu (Biu) – Tanjung Perak
15. T15: Tanjung Perak – Larantuka – Adonara (Terong) – Lewoleba – Tanjung Perak




























