Perkumpulan Pensiunan Pelabuhan Indonesia Sejahtera (P3IS) menyalurkan paket bantuan bagi warga terdampak gempa bumi di Kelurahan Paupanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 5 September 2026 lalu.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum P3IS, Djafar Achmad secara simbolis kepada warga terdampak gempa NTT beberapa waktu lalu.
Mantan Bupati Ende Djafar Achmad, mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan hasil solidaritas dari para purnabakti Pelindo se-Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
“Walaupun nilai materialnya mungkin tidak seberapa, tapi nilai empati dan kebersamaan itulah yang paling utama,” ungkap Djafar.
Kata Djafar sumbangan yang berhasil terkumpul mencapai lebih dari 200 paket sembako dan pakaian.
“Penggalangan bantuan akan terus berlangsung. Kami bergotong-royong mengumpulkan dana, pakaian, dan sebagainya. Akhirnya, terkumpul dana itu,” kata Djafar.
Bantuan Pensiunan Pelindo tersebut, ujar Djafar, menyasar kepada para nelayan di Paupanda dan petani di Desa Ndetundora.
Harapannya, bantuan yang ada dapat membantu masyarakat terdampak dalam menghadapi bencana gempa bumi.
Sebelumnya, mantan bupati Ende ini menyalurkan ribuan paket sembako dari PT Jababeka & CAM untuk korban gempa Flores.
“Kami bantu apa yang bisa kami lakukan. Saya cinta Ende dan saya berdoa semoga badai ini berlalu dan situasi segera pulih,” ungkapnya.
Sementara itu, Maulud Karim, warga Kelurahan Paupanda yang merupakan salah seorang penerima bantuan menyatakan berterima kasih kepada P3IS atas kepeduliannya terhadap para korban. “Kami tidak melihat banyak sedikitnya tapi karena hati yang peduli dengan kami,” katanya.
Dia mengaku sejak terjadi gempa bumi pada 15 Agustus lalu, belum ada bantuan dari pemerintah untuk warga terdampak Paupanda.
“Kalau dari Pemerintah Kabupaten Ende sendiri belum ada. Hanya bantuan LSM berupa terpal. Itu dari Kupang baru-baru ini dan sekarang dari Bapak Djafar. Kalau dari Pemda Ende belum ada,” ucapnya.
Gempa Flores, kata dia, ikut memporakporandakan perekonomian masyarakat. Sudah hampir dua minggu, dirinya bersama nelayan lainnya belum melaut, khawatir dengan gempa susulan yang masih terus terjadi.
“Jadi, kami sekarang tidak bisa melaut. Kalau tidak ada gempa itu kisaran pendapatan bisa Rp200-250 ribu per hari. Tapi sekarang dengan keadaan begini kami tidak bisa melaut,” kata Maulud. (***)































