Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara terkesan tak terurus dan tampak kumuh. Padahal, pelabuhan tertua di Jakarta ini digadang-gadang untuk dijadikan sebagai pelabuhan heritage, karena keunikannya dengan adanya kapal pelayaran rakyat (Pelra).
Reporter Ocean Week yang meninjau ke pelabuhan Sunda Kelapa, Kamis (3/1/2019) siang, melihat kesemrawutan pelabuhan ini, seolah tak tertata rapi. Begitu masuk pintu gerbang utama, langsung disuguhi dengan pemandangan puluhan kapal Pelra yang bersandar di dermaga untuk melakukan bongkar muat barang secara tradisional.
Tak jauh dari lokasi itu, tepatnya dibelah kanan, pemandangan pun berubah. Setumpukan pasir yang ada di lapangan penumpukan mengesankan bahwa pelabuhan ini tak lagi cocok disebut sebagai pelabuhan heritage. Komoditi pasir ini pula yang menjadikan Sunda Kelapa menjadikan pelabuhan ini tak layak sebagai pelabuhan wisata bahari.
Di tengah panasnya terik matahari, Ocean Week pun melihat gunungan kontainer yang menumpuk di salah satu container yard di pelabuhan ini.
Dari pantauan di lapangan, beberapa tempat yang terlihat bersih, nyaman, antara lain hanya kantor KSOP, kantor Pelindo II Sunda Kelapa, Masjid, KPPP, dan CY di depan kantor KSOP.

Jalanan di dalam pelabuhan juga sangat berdebu. Banyak got air yang tergenang dan ‘mampet’ karena terkena longsoran pasir. Kondisi dan situasi ini mestinya tidak dibiarkan berlarut. GM Pelindo II Sunda Kelapa seharusnya bisa menjaga hal itu.
Kepala KSOP Sunda Kelapa Ridwan Chaniago yang dikonfirmasi mengenai hal itu, menyatakan akan melakukan penataan, dimulai dari membersihkan saluran air. “Kami akan meningkatkan kebersihan, ketertiban, keamanan,” katanya.
Bahkan dengan berkelakar Ridwan menantang kalau di halaman kantornya ditemukan sampah yang berserakan, termasuk puntung rokok akan diberikan hadiah.
Ridwan juga mengungkapkan, bahwa sesuai dengan ketentuan peraturan pelayaran, pihaknya akan menertibkan pelayaran-pelayaran yang berkegiatan di pelabuhan Sunda Kelapa. “Semua itu kami lakukan semata untuk keselamatan pelayaran,” ungkapnya kepada Ocean Week, di Kantornya, Kamis (3/1) siang.
Dalam catatan Ocean Week, KSOP Sunda Kelapa dan Pelindo II Sunda Kelapa sepakat tidak akan memperpanjang kontrak penggunaan lahan penimbunan pasir, setelah Desember 2015. Kenyataannya aktivitas pasir di pelabuhan ini masih berlangsung.
Humas Pelindo II yang dikonfirmasi mengenai masalah pelabuhan Sunda Kelapa ini, hingga berita ini ditulis belum memberi jawaban.
Pastinya, penataan dan perubahan yang akan dilakukan KSOP Sunda Kelapa perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait di pelabuhan ini. (***)






























