Industri kemaritiman, logistik, angkutan laut, dan kepelabuhanan bakal merubah memasuki era 4.0. Karena hampir semua layanan di era tersebut lebih banyak dilakukan menggunakan digital. Semua aktivitas di sektor transportasi dan logistik, serta kepelabuhanan dituntut sudah mulai beralih ke sistem otomatisasi, teknologi artificial intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT).
Bahkan, PT Pelindo harus merogoh kocek hingga triliunan rupiah, hanya untuk menyiapkan berbagai aplikasi digital tersebut. Hal itu dilakukan semata untuk memudahkan layanan bagi para pengguna jasanya, membuat pengguna jasa merasa nyaman, aman, dan transparan. Pertanyaannya siapkah industri pelayaran, pelabuhan, logistik, dan usaha penunjang lainnya dalam memasuki era 4.0 tersebut.

Direktur Lala Ditjen Hubla Capt. Wisnu Handoko pun membenarkan kalau digitalisasi sudah menjadi kebutuhan bagi semuanya, termasuk kalangan kepelabuhanan, pelayaran dan industri penunjang lainnya di sektor tersebut. “Kita sudah akan memasuki era 4.0, mau nggak mau harus siap. Sebagai pemerintah juga akan mengikutinya, bagaimana nanti regulasi yang akan kami siapkan,” kata Wisnu kepada Ocean Week, di Semarang baru-baru ini.
Ketua DPP INSA Carmelita Hartoto juga tidak menampik dengan hal itu. Menurut dia, pemanfaatan teknologi berbasis digital dirasa sangat perlu guna meningkatkan kinerja transportasi dan logistik nasional di masa depan.
“Kondisi ini menuntut perubahan dari para pelaku usaha terkait dengan kegiatan transportasi logistik kita,” kata Carmelita.

Meme, panggilan Carmelita menyatakan bahwa penggunaan sistem digital harus mulai diterapkan diseluruh aktivitas, dari mulai pergudangan, trucking, pelabuhan dan transportasi pelayaran. “Guna mempersiapkan strategi menghadapi berbagai perubahan pada sektor transportasi dan logistik di era revolusi industri 4.0 itu, seluruh pihak terkait baik pemerintah, praktisi, dan juga akademisi perlu merapatkan barisan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan secara bertahap mata rantai pasokam (supply chain) dan logistik di Indonesia sudah akan bergerak pada era Revolusi Industri 4.0.
Tetapi, ungkap Yukki, kita semua harus hati-hati dalam menyambut era 4.0 ini terutama yang berkaitan dengan big data. “Sebagai negara harus berhati-hati jika mengizinkan pihak luar untuk masuk terutama yang berkaitan dengan big data,” kata saat Ocean Week meminta tanggapan Ketua AFFA tersebut mengenai era 4.0, pagi ini.

Yukki mengingatkan, keamanan big data itu sangat penting sehingga pemerintah harus mempunyai rencana untuk mengantisipasinya. “Karena 4.0 ini dapat bergerak masuk terhadap semua pergerakan barang, misalnya data mengenai pertanian, pangan dan lain-lain,” ungkap Yukki.
Menurut dia, dengan adanya era baru ini akan merubah wajah indonesia di bidang logistik, maupun sektor lain dalam beberapa tahun ke depan. Yukki memperkirakan ongkos logistik Tanah Air akan bisa turun hingga 20% dibandingkan dengan saat ini yang mencapai 23,5%.
Tak Mudah
Mengahadapi era 4.0, Pelabuhan Indonesia pun sudah mulai sedikit demi sedikit melakukan perubahan. Berbagai aplikasi telah disiapkan, bahkan sebagian sudah diterapkan. Membenahi pelabuhan secara menyeluruh bukanlah perkara mudah.
IPC kini mulai mengembangkan inovasi layanan Digital Port System, yakni sebuah sistem pelayanan pelabuhan berbasis online. Menurut Elvyn G. Masassya, dengan teknologi digital di semua lini, seluruh layanan di IPC menjadi semakin cepat, mudah, dan lebih murah. “Semua ini diharapkan akan mampu menekan biaya logistik nasional dan pada akhirnya akan meningkatkan daya saing produk nasional,” katanya, di Jakarta.

Elvyn juga menyampaikan, untuk tingkat nasional, IPC sudah menerapkan terminal operating system petikemas, E-Payment, pengembangan terminal operating system untuk non-petikemas, implementasi MOS, Truck Announcement, TPS Online, dan auto-gate system. Sedangkan implementasi di lingkup global, yakni upaya membangun konektivitas dengan ratusan pelabuhan dunia internasional untuk layanan vessel scheduling, vessel booking, e-VGM, e-BL, dan monitoring vessel.
Bambang Eka Cahyana, Dirut Pelindo I berharap, melalui langkah digital ini diharapkan akan membuat biaya logistik nasional semakin efisien. “Pelindo I juga sudah membangun digitalisasi sistem, dan sudah menerapkan Integrated Billing System (IBS), e-Berthing serta e-Money melalui kerja sama dengan bank-bank BUMN,” katanya.
Begitu pula dengan di Pelindo III. Perusahaan plat merah tersebut juga sudah menerapkan digitalisasi di sejumlah pelabuhannya. Bahkan sistem Home Terminal pun mereka tawarkan untuk memudahkan para pengguna jasanya.
Sebagai praktisi pelayaran, Carmelita Hartoto menilai, sudah seharusnya pelabuhan melakukan pengembangan, baik sarana maupun prasarananya, baik di pelabuhan maupun akses di luar pelabuhan. Terutama, pelayanan pelabuhan agar dapat lebih kompetitif. “Peningkatkan efisiensi dan efektivitas arus barang dan kapal ini untuk menekan biaya logistik. Salah satu solusinya ya digitalisasi sistem,” katanya. Carmelita menambahkan, dalam era baru (memasuki 4.0), semua mesti bisa mengubah mindset.
Carmelita menilai, pelayanan dengan sistem digital memang diperlukan untuk menjawab tantangan pelabuhan masa depan. Sebab dengan digital, semua layanan dan informasi dituntut untuk lebih cepat, tepat dan akurat, serta transparan.
Dengan digitalisasi pelabuhan, pelayaran bisa langsung mendapatkan akses informasi terkait pergerakan kegiatan, dan biaya-biaya kapal setiap saat secara cepat dan akurat. “Yang penting yang kami harapkan, layanan digital di pelabuhan ini akan mendorong terjadinya efisiensi biaya dan waktu pelayanan kapal,” katanya.
Meme mengaku sangat mengapresiasi terhadap langkah-langkah dan pengembangan yang dilakukan IPC selama ini.
Memang, dengan sistem digital tersebut, layanan di kepelabuhanan menjadi cepat, mudah, dan transparan. Misalnya, untuk layanan penyandaran kapal, layanan pemanduan-penundaan, sudah menggunakan digital, sehingga pelayaran dapat memantau semuanya. (***)





























