Idul Fitri 2026 tak lama lagi. Masyarakat di seluruh pelosok negeri ini, biasanya Mudik ke kampung halaman masing-masing. Ada yang menggunakan kendaraan pribadi, maupun angkutan umum (bus, kapal laut, pesawat).
Khususnya angkutan laut, berbagai persiapan untuk angkutan Lebaran pun telah disiapkan. Ratusan kapal diuji petik untuk kelaikannya. Pemerintah saat ini sudah pula sibuk meninjau fasilitas pelabuhan, tak hanya dilintasan Ketapang Gilimanuk, namun Merak Bakauheni.
Bahkan pada rute Banten Lampung, Pemerintah telah menyiapkan 4 pelabuhan yakni Merak, Ciwandan, BBJ, dan KBS.
Sejauh mana persiapan dari kapal-kapal Penyeberangan untuk angkutan Lebaran tahun 2026, Ocean Week (OW) berhasil mewawancarai Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo (KS), berikut petikannya.
OW : bagaimana kesiapan kapal-kapal anggota Gapasdap pada masa angkutan Lebaran 2026 nanti ?
KS : kami seluruh operator anggota GAPASDAP telah siap dan menyiapkan seluruh armada kapal dengan perencanaan docking dan BBM perawatan kapal serta telah mempersiapkan kesiapan SDM serta seluruh perangkat termasuk Standard operating procedure agar dalam segala situasi dapat melayani secara maksimal.
OW : berapa banyak kapal ?
KS : seluruh kapal penyeberangan baik komersial dan perintis saat ini sekitar 450 armada seluruh Indonesia, belum termasuk di angkutan sungai dan danau yang jumlahnya ribuan. Meskipun dalam angkutan Lebaran nanti fokus utama adalah di 2 lintasan besar yang menghubungkan Jawa Sumatra maupun Jawa Bali. Meskipun di dua lintasan komersial utama tersebut (Merak Bakauheni dan Ketapang Gilimanuk) jumlah kapal sangat cukup bahkan berlebih karena dengan 7 pasang dermaga di Merak Bakauheni saat ini sudah siap 70 armada kapal, meskipun dalam kondisi normal sehari hari hanya bisa dilayani 28 kapal saja, artinya sangat banyaknya kapal menunggu jadwal perlu dibangun tambahan dermaga. Begitu juga yang di ketapang Gilimanuk sudah ada 56 armada kapal dengan jumlah yang dapat ditampung setiap hari hanya setengahnya saja, kondisi jumlah dermaga yang perlu ditingkatkan baik jumlah, kapasitas maupun kualitasnya.
OW : pada lintasan Merak Bakauheni bagaimana ?
KS : untuk lintasan Merak Bakauheni, kami mohon dijadikan sebagai pelabuhan utama, sedangkan pelabuhan tambahan lain sebagai pelabuhan penunjang, baik BBJ maupun Ciwandan dan KBS, bukan sebaliknya. Surat resmi dan dalam dialog sudah kami sampaikan kepada Bapak Menhub (Dudy Purwaghandi). Kemenhub menyiapkan 4 pelabuhan tentu saja diperlukan sebagai tambahan dan antisipasi sebagai solus sementara atau darurat, tetapi seharusnya perlu dibangun tambahan dermaga yang cukup jumlah, kapasitas dan kualitasnya di Merak Bakauheni, karena ini kebutuhan pokok bukan hanya setiap Natal dan Tahun Baru dan angkutan lebaran saja. Ini dari tahun ke tahun menyangkut kelancaran penumpang dan logistik nasional, sehingga setiap tahun kita tidak terus melakukan pekerjaan sementara atau darurat.
OW : jadi ?
KS : jadi persoalan secara mendasar bisa kita selesaikan secara terencana dan matang.
OW : apa saran Gapasdap ?
KS : Gapasdap menyarankan agar semua pemangku kepentingan merencanakan dengan baik, khusus pemakai jasa kami menghimbau agar dapat mengatur waktu perjalanan dengan memesan tiket jauh hari dan tidak memaksa untuk memadati pelabuhan tanpa memiliki tiket, ingat Moda transportasi penyeberangan juga sama dengan moda lain yang harus ada tanggung jawab pada masing-masing stakeholder, buka hanya kami selaku operator yang dituntut dapat melayani semua pemakai jasa termasuk yang tidak bertiket dan memaksa antri masuk. Apalagi tarif dinamis yang bisa mendistribusikan arus muatan agar lebih merata seperti Moda transportasi kan tidak berlaku di tempat kami, bahkan kami bukan hanya menderita hanya muatan searah saja, karena ada mekanisme “Tiba Bongkar Berangkat” karena kurangnya dermaga, namun juga tidak menikmati tarif batas atas saat peak season seperti yang dinikmati Moda lain. Ini diskriminasi yang wajib dihentikan, waktunya Moda penyeberangan diberikan peradaban yang layak agar terjadi keadilan dan keseimbangan.
OW : agak rumit ya Pak Ketum ?
KS : ini kan kegiatan rutin tetapi selalu mengalami masalah berulang karena tidak terjadi kesetaraan antar pemangku kepentingan. Saran dari pemangku kepentingan utama yang telah berpengalaman puluhan tahun kurang didengar dan sering memaksakan kehendak yang tidak realistis. Keseimbangan antara jumlah armada dan infrastruktur dermaga menjadi masalah yang tidak segera diselesaikan, kapal ditambah, tapi jumlah dermaga tidak ditambah dan hal itu menjadi penyebab utama kemacetan.
OW : apa harapan Gapasdap untuk angkutan Lebaran tahun ini ?
KS : angkutan Lebaran tahun ini kami berharap ada kesadaran kolektif dari semua pemangku kepentingan agar ada progres perbaikan secara substansial dari waktu ke waktu. Kita wajib melakukan kerjasama antar semua pemangku kepentingan di industri angkutan penyeberangan nasional secara INKLUSIF, kolaboratif dan progresif. (ridwansaid/ow)






























