Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf Kalla (JK) mengingatkan dan minta bahwa masa depan Sabang bukan lagi menjadi tempat persinggahan kapal untuk mengisi air dan pelabuhan transit, melainkan sebagai industri perikanan dan pariwisata internasional.
Dua hal itulah yang diminta Jusuf Kalla kepada Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk dikembangkan dan dibangun di wilayah tersebut.
“Situasi sekarang sudah berbeda. Dulu berat kapal hanya 5.000 ton. Sekarang 50.000 ton. Kapal sekarang canggih dan berteknologi tinggi. Punya fasilitas mengubah air laut jadi air tawar. ABK (anak buah kapal) juga hanya sedikit. Seluruh kebutuhan tersedia di kapal,” kata Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya pada Musyawarah Besar (Mubes) V Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unsyiah Jakarta, Sabtu (19/1) lalu.
Sementara itu Nova Iriansyah menyatakan skema pembangunan Sabang sudah dijalankan sebagaimana harapan Wapres Jusuf Kalla.
“Dari beberapa kajian, Sabang dikembangkan sebagai daerah industri pariwisata internasional dan perikanan. Dewan Kawasan sudah memberikan arahan kepada BPKS untuk melaksanakan beberapa langkah mendukung berkembang industri pariwista internasional dan pusat perikanan,” kata Nova menanggapi permintaan Jusuf Kalla.
Menurut Ketua Dewan Kawasan Sabang (DKS) ini, strategi yang dilakukan antara lain dengan memperbanyak even nasional dan internasional di Sabang. Memperbanyak kunjungan wisata melalui kapal pesiar, menyiapkan infrastruktur sosial masyarakat dengan medorong tumbuhnya enterpreuneur industri pariwisata dan perikanan seperti homestay, handy kraft, restoran, penataan kawasan wisata, dan sebagainya.
Kita juga meningkatkan kerja sama tiga negara dengan mengembangkan kawasan Segi Tiga Saphulang yakni Sabang-Phuket-Langkawi atau IMTGT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle).
Hadir pada kesempatan Mubes ke-5 IKA Unsyiah, antara lain Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Rektor Unsyiah Prof Syamsul Rizal, dan sejumlah tokoh Aceh seperti Syamsuddin Mahmud, Adnan Ganto, Azwar Abubakar, Surya Darna, Sulaiman Abda, dan lainnya.
Masyarakat Sabang berharap, wilayah ini dapat menjadi gerbang utama poros maritim Indonesia di wilayah barat melalui industri perikanan dan industri pariwisata. “Untuk itu perlu diperkuat infrastruktur terutama kapal angkutan barang, karena selama ini menyatu dengan angkutan penumpang dan kendaraan pribadi,” kata Fachrulsyah Mega, Ketua Ikatan Masyarakat Sabang Jakarta Raya menambahkan.
6.691 Wisman
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Sabang, Anton Helistiawan menyatakan, Wisatawan ke Sabang meningkat, dari 3.387 orang pada 2017 menjadi 6.691 orang di 2018. Wisman yang datang dengan kapal pesiar mendominasi jumlah itu.
“Wisman yang berkunjung berasal dari Asia, Eropa dan Afrika. Selain dengan kapal pesiar, wisman tersebut juga datang dengan yacht, bahkan pesawat pribadi,” kata Anton. (si/***)





























