Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyoroti sektor jasa perkapalan yang menjadi salah satu penyumbang terbesar defisit transaksi berjalan.
“Jasa kapal ini menjadi salah satu penyumbang defisit terbesar di neraca jasa. Ketika kita melakukan ekspor, apapun itu, dengan kapal asing, kita mendapat devisa hasil ekspor namun pada saat yang bersamaan kita juga membuang devisa,” kata Bambang di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu, seperti dikutip Antara.
Bambang menuturkan, problema dalam ekspor dan impor yaitu memang membutuhkan kapal yang memiliki jalur pelayaran langsung masuk dan keluar negeri. Dengan kata lain, kapal tersebut haruslah kapal dengan skala menengah besar.
“Ini yang belum banyak dimiliki oleh perusahaan besar di Indonesia. Jadi kita tergantung kepada kapal maskapai asing yang memang dia sudah lama sekali menguasai bidang itu,” ujarnya.
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan memperkuat industri perkapalan di Tanah Air sehingga devisa yang dihasilkan dapat jauh lebih optimal.
“Selain itu, perlu diciptakan lebih banyak lagi rute langsung pelabuhan tujuan, apakah di Asia Timur, Eropa, maupun Amerika. Artinya pelabuhan ditingkatkan terus,” ungkap Bambang.
Bank Indonesia mencatat, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal III/2018 meningkat menjadi 3,37% dari PDB atau sebesar US$ 8,8 miliar, dibandingkan kuartal II/2018 yaitu 3,02% dari PDB atau US$ 8 miliar.
Meski pada paruh ketiga ini defisit meningkat, namun jika melihat dari awal tahun hingga akhir kuartal III/2018, defisit neraca transaksi berjalan secara akumulatif sebesar 2,86% PDB.
Menurut bank sentral, defisit yang meningkat pada kuartal III/2018 karena memburuknya kinerja neraca perdagangan barang dan melebarnya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi.
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal III 2018 menunjukkan, jasa transportasi barang defisit US$ 1,85 miliar dimana ekspor barang tercatat US$ 365 juta sedangkan impor barang US$ 2,21 miliar.
Hal tersebut disebabkan peningkatan impor barang yang tentunya meningkatkan permintaan pengangkutan (shipping) ke domestik, dan juga pelaksanaan kegiatan ibadah haji.
Namun, defisit transaksi berjalan berhasil dicegah untuk semakin melebar karena ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan dari sektor pariwisata.
Hal itu karena meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain untuk menyaksikan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. (ant/***)






























