PT Industri Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) menggelar public expose 2019, hari Selasa (24/9), bertempat di Museum Maritim, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Direktur Utama PT IKT, Chiefy Adi K, menyatakan IPCC akan melakukan berbagai pengembangan, misalnya merealisasikan terminal mobil yang lebih besar di tahun 2022, dengan lokasi yang akan dioperasikan di lahan seluas hampir 89,5 hektar.
“Saat ini IPCC telah beroperasi di lahan seluas 34,5 hektar dari semula 31 hektar,” kata Chiefy dalam paparan public expose, Selasa pagi.
Pada kesempatan paparan Public Expose (Pubex) 2019, Chiefy juga menceritakan perkembangan kinerja baik dari sisi operasional maupun keuangan.
Menurut Chiefy, Perseroan yang telah berdiri sejak 2006 pada bulan Agustus 2019 berhasil menangani lonjakan arus CBU secara total sebesar 58.100
unit atau meningkat 55,30% secara YoY dari periode yang sama di tahun lalu yang hanya mencapai 37.411 unit kendaraan.
Kondisi tersebut merupakan rekor pencapaian tertinggi dalam penanganan kegiatan operasionalnya selama perseroan ini berdiri, dimana pada bulan Agustus 2019 jumlah kendaraan CBU yang diekspor melalui lapangan terminal internasional IPCC berjumlah 35.857 unit atau lebih tinggi 54,73% secara YoY dibandingkan pencapaian pada periode yang sama di tahun lalu sebesar 23.174 unit.

“Tidak hanya ekspor, IPCC pun turut menangani CBU impor sepanjang Agustus 2019 sejumlah 6.988 unit lebih tinggi 20,57% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebanyak 5.796 unit,” ungkapnya.
Adapun kenaikan tersebut diperkirakan akan semakin baik seiring kepercayaan para mitra dan stakeholders lainnya atas upaya peningkatan pelayanan yang berorientasi customer centric di lingkungan IPCC.
Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya bongkar muat sejumlah brand ternama. Diantaranya Mitsubishi Expander, Suzuki New Carry Pick Up, Honda Brio, dan menyusul brand lainnya seperti Wuling dengan menggunakan brand Captiva.
“Meningkatnya permintaan kendaraan, khususnya di Middle East terutama untuk
kendaraan kecil seperti Toyota Yaris membuat aktivitas ekspor tercatat meningkat dan kondisi tersebut akan sangat positif bagi IPCC,” ujar Chiefy.
“Di sisi lain, upaya Pemerintah
untuk menggiatkan ekspor kendaraan dalam rangka mengimbangi defisit neraca perdagangan turut menjadi kabar baik bagi IPCC”, tambah Indra Hidayat Sani, Direktur Operasi PT IKT.
Sementara itu, direktur Keuangan Sugeng Mulyadi mengungkapkan, kinerja keuangan semester I 2019 PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) terimbas faktor kinerja Triwulan II yang terkena dampak dengan adanya imbas faktor perhelatan pemilu dan lebaran di Triwulan II, serta faktor global dari masih adanya perang dagang antara AS dan China sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi hingga demand di pasar khususnya alat berat.
“Jika dilihat sebelumnya, pada kinerja Triwulan I 2019 masih terlihat bagus (pendapatan naik dari 115,13 miliar di periode kuartal pertama tahun sebelumnya menjadi 117,41 miliar atau naik 1,98%, dan laba naik dari Rp 49,03 miliar menjadi Rp 54,71 miliar atau naik 28,24 % secara YoY dikuartal pertama 2019,” katanya.
Pendapatan
Sugeng juga menyatakan, Perseroan pada semester I 2019 membukukan pendapatan sebesar Rp228,70 miliar
dimana perolehan tersebut lebih rendah 8,62% dibandingkan periode yang sama
tahun lalu sebesar Rp250,27 miliar yang disebabkan pencapaian pendapatan pada segmen jasa terminal yang lebih rendah 8,90% (YoY) menjadi Rp212,72 miliar dari semester I tahun lalu sebesar Rp233,49 miliar.
‘EBITDA mengalami penurunan tipis
dari perolehan sebesar Rp128,27 miliar di semester I tahun lalu menjadi Rp121,44
miliar atau lebih rendah 5,33% (YoY),” ungkapnya.
Meski demikian, IPCC tetap mampu memperoleh laba bersih IPCC di semester I 2019 tercatat sebesar Rp90,57 miliar dibandingkan perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp94,87 miliar.
Di sisi lain, perseroan masih dapat mempertahankan tingginya marjin laba operasional, EBITDA, dan laba bersih pada level yang cukup tinggi.
Pada semester II tahun ini, perseroan optimis akan adanya lonjakan pada aktivitas internasional terutama pada
kegiatan ekspor kendaraan yang cenderung kembali meningkat.
Dengan selesainya event Pemilu Presiden dan legislatif yang berakhir dengan baik, para APM akan memaksimalkan sisa bulan di tahun ini untuk mengejar target ekspor tahun ini.
Chiefy menambhakan, belum lama ini IPCC kembali mendapat kepercayaan penuh dalam penanganan bongkar muat kendaraan dimana pada pertengahan bulan September 2019 ini, IPCC mulai menangani secara penuh seluruh cargo Passenger Car (CBU), Alat Berat, Bus/Truk, dan General Cargo pada kapal milik PT Toyofuji Serasi Indonesia.
Hal ini membuktikan bahwa pelayanan yang diberikan dengan konsep Happy Employee, Happy Customer, Happy Country mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan untuk terus meningkatkan kinerja perseroan. Kapal
perdana milik PT Toyofuji Serasi Indonesia ini telah sandar pada tanggal 20 September 2019 dengan estimasi muatan 382 unit CBU, 6 unit motor, dan 1 unit alat berat melalui kapal MV Serasi I Voy l/485.
“Ini bentuk langkah nyata manajemen dalam mengembangkan nilai perusahaan
Customer Centric. Kepuasan pelanggan adalah prioritas kami. Diharapkan dengan bersandarnya secara penuh kapal milik PT Toyofuji Serasi Indonesia ini, kepercayaan customer semakin meningkat sehingga dapat saling memberikan keuntungan dan nilai tambah bagi kedua belah pihak bahkan lebih luasnya kepada bangsa Indonesia.” ungkap Chiefy Adi K.
Dengan demikian seluruh RoRo Vessel yang sebelumnya ditangani di Multipurpose Terminal maka saat ini 100% akan ditangani oleh PT IKT Tbk.
World Class Automotive
Pada kesempatan itu, Arif Isnawan, Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis menyampaikan visi dan misi serta target jangka panjang IPCC.
Ke depan, untuk menunjang ekosistem rantai logistik maka IPCC berpeluang untuk menjadi World Class Automotive Trade Facilitator yang dapat memaksimalkan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Pusat Logistik Otomotif
Meski situasi perekonomian dunia melesu, namun aktivitas di terminal kendaraan terbesar no. 7 di Asia dan ke 3 di Asia Tenggara setalah Singapura dan Thailand, tetap menarik bagi pelaku industri kendaraan untuk melakukan kegiatannya di terminal ini.
Chiefy juga mengatakan, bahwa anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II inu, mengusulkan bisa membuka pusat logistik berikat otomotif untuk menunjang cita-cita perusahaan menjadi operator terminal kendaraan kelas dunia pada 2024.
“Usulan itu disampaikan berdasarkan permintaan salah satu importir otomotif yang menjadi customer perusahaan dengan kode saham, ketika importir mengimpor produk otomotif baru, produk itu belum tentu langsung ditangkap pasar,” katanya.
Di sisi lain, masa penumpukan di terminal dibatasi maksimal sebulan. Setelah itu harus keluar dan membayar pajak penjualan barang mewah (PPnBM), dan bea masuk.
“Mereka memang menginginkan untuk diadakannya PLB [pusat logistik berikat] sehingga tidak perlu membayar pajak dulu sebelum ada pembeli mobil. Saya menyuarakan salah satu customer kami,” katanya.
Chiefy juga mengemukakan, menjadi fasilitator perdagangan otomotif kelas dunia (the world class automotive trade facilitator) berarti peran terminal kendaraan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan industri otomotif dan turunannya, termasuk alat berat.
“Kami ingin meningkatkan pelayanan terminal kendaraan sebagai sebuah ekosistem rantai logistik,” ujarnya.
Seperti diketahui bahwa PLB adalah gudang logistik multifungsi untuk menimbun barang impor atau ekspor, dengan kemudahan fasilitas perpajakan berupa penundaan pembayaran bea masuk dan tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta menawarkan fleksibilitas operasional lainnya. (***)






























